pencarian

Minggu, 06 Februari 2011

ASUHAN KEBIDANAN Pada BULIN

ASUHAN KEBIDANAN
PADA IBU BERSALIN Ny “N” G1P00000, USIA 23 TAHUN, UK 40 MINGGU
DI RSB “A”
MADIUN

I. PENGKAJIAN
Tanggal : 15 Desember 2010 Pukul : 09.30 WIB
Tempat : RSB” A” Madiun
a. Data Subyektif
1. Identitas
Istri Suami
Nama : Ny “N” : Tn “S”
Umur : 23 tahun : 27 tahun
Agama : Islam : Islam
Suku/bangsa : Jawa/Indonesia : Jawa/Indonesia
Pendidikan : D3 : S1
Pekerjaan : Bidan : PNS
Penghasilan : Rp 1.500.000,00/bulan : Rp 2.000.000/bulan
Alamat : Jl. Kedondong, Kec. Nganggrek, Kab: Magetan
2. Keluhan utama
Ibu mengatakan merasa kenceng-kenceng dan mengeluarkan lendir bercampur darah sejak pukul 05.00 WIB
3. Riwayat kesehatan yang lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular, menurun, menahun seperti batuk lama dan keluar darah (TBC), banyak makan, banyak minum, sering kencing (DM), sesak nafas, jantung berdebar-debar (jantung), tekanan darah tinggi (HT), dan lain-lain.
4. Riwayat kesehatan sekarang
Ibu tidak sedang menderita penyakit menular, menurun maupun menahun seperti batuk lama dan keluar darah (TBC), sesak nafas, jantung berdebar-debar (jantung), banyak makan, banyak minum, sering kencing (DM), tekanan darah tinggi (HT), dan lain-lain.
5. Riwayat kesehatan keluarga
Keluarga ibu maupun suami tidak ada yang menderita penyakit menular, menurun, menahun, seperti batuk lama dan keluar darah (TBC), sesak nafas, jantung berdebar-debar (jantung), banyak makan, banyak minum, sering kencing (DM), tekanan darah tinggi (Hipertensi), dan lain-lain. Keluarga ibu maupun suami, juga tidak ada keturunan kembar.
6. Riwayat kebidanan
a. Riwayat haid
Menarche umur 13 tahun, haid teratur, siklus 28 hari, lama haid 7 hari, jumlah darah normal, sifat darah encer, merasakan nyeri haid sebelum haid datang. Hari pertama haid terakhir tanggal 08-03-2010.
b. Riwayat kehamilan sekarang
Ibu mengatakan hamil anak pertama, usia kehamilan 9 bulan, keluhan pada saat hamil 3 bulan: mual, muntah, pusing, keluhan pada saat hamil 6 bulan: nyeri pinggang, keluhan pada saat hamil 9 bulan: sering kencing. Pergerakan anak pertama kali umur kehamilan 5 bulan, selama hamil periksa  8 kali ke dokter, mendapat imunisasi TT 1 kali di Puskesmas. Setiap periksa mendapat vitamin dari dokter dan sudah diminum sampai habis. Penyuluhan yang didapat : gizi untuk ibu hamil, perubahan pada ibu hamil, perawatan payudara dan sudah dilakukan oleh ibu.
7. Riwayat persalinan sekarang
Tanggal 15 Desember 2010 jam 05.00 WIB, ibu merasa kenceng-kenceng dan mengeluarkan lendir bercampur darah. Pada jam 09.00 WIB kenceng-kenceng dirasakan semakin sering kemudian oleh suami dibawa ke BPS ”A” Madiun.
8. Riwayat KB
Ibu mengatakan selama hamil ibu belum menggunakan alat kontrassepsi.
b. Pola kebiasaan sehari-hari
1. Nutrisi
- Selama hamil : Makan 4 kali sehari, porsi sedang dengan komposisi nasi, sayur (sawi, bayam, kangkung), lauk (tempe, ayam, telur), buah (pisang, pepaya).kadang makan makanan ringan disela-sela waktu makan, minum air putih 2 liter perhari. Pada awal kehamilan ibu mengatakan kurang nafsu makan karena mual muntah.
- Selama persalinan : Minum teh manis 2 gelas. Ibu terakhir makan jam 7 pagi dirumah dengan menu seimbang yaitu nasi, sayur, lauk, buah, dan segelas susu ibu hamil. Ibu mengeluh kurang nafsu makan karena merasakan nyeri akibta persalinan.

2. Eliminasi
- Selama hamil : BAB 1 x/hari, konsistensi lembek, warna kuning , tidak ada keluhan. BAK 4-5 x/hari, warna kuning jernih, tak ada keluhan. Saat hamil tua ibu mengeluh sering kencing dan sulit BAB.
- Selama persalinan : Ibu BAB terakhir tanggal 14 Desember 2010 jam 16.00 warna kuning, konsistensi lembek, tak ada keluhan. Ibu mengatakan sering BAK di kamar mandi  4-5 kali.
3. Istirahat / tidur
- Selama hamil : Tidur malam  7-8 jam, tidur siang 1-2 jam, tidak ada keluhan. Ibu terakhir bangun tidur jam 5 tanggal 15 Desember 2010.
- Selama persalinan : Ibu tidak bisa tidur, bila tidak ada his ibu kadang berbaring di tempat tidur sambil memejamkan mata.

4. Personal Hygiene
- Selama hamil : Mandi 2x sehari, ganti baju 2x sehari, gosok gigi 2x sehari, keramas 2x seminggu, ganti celana dalam bila kotor atau 2 x sehari.
- Selama persalinan : Sebelum berangkat ke RS ibu mandi, gosok gigi, ganti baju, ganti celana dalam.

5. Aktifitas
- Selama hamil : Ibu melakukan pekerjaan sehari-hari sebagai ibu rumah tangga (memasak, mencuci, membersihkan rumah). Ibu jalan-jalan pagi setiap hari selama 30 menit di sekeliling rumah
- Selama persalinan : sejak pagi ibu belum melakukan aktifitas berat, hanya jalan-jalan untuk mengurangi rasa nyeri.



6. Seksual
- Selama hamil : Ibu melakukan hubungan seksual 1-2 x seminggu, tidak ada keluhan. Selama kehamilan trimester III, ibu tidak pernah melakukan hubungan seksual karena takut.
- Selama persalinan : Ibu tidak melakukan hubungan seksual karena sudah masuk masa persalinan.

c. Pola ketergantungan
Ibu mengatakan tidak memiliki riwayat ketergantungan terhadap rokok, jamu-jamuan, minuman beralkohol, maupun obat-obatan.
d. Psikososial dan spiritual
Ibu mengatakan senang dengan kehamilan pertamanya yang akan menjalani proses persalinan dan keluarga mendukung ibu selama kehamilan sampai menghadapi persalinan. Ibu banyak berdo’a kepada Tuhan supaya bayinya dapat lahir dengan normal dan selamat. Ibu juga merasa cemas karena memikirkan bayinya apakah dapat lahir dengan normal atau tidak.
e. Latar belakang sosial budaya
Ibu mengatakan selama hamil sampai proses persalinan tidak melakukan pemijatan, minum jamu-jamuan maupun obat-obatan dan tidak mengikuti budaya minum air rendaman rumput fatimah maupun adat budaya lainnya.
 
f. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
- Keadaan Umum : baik
- Kesadaran : composmentis
- TTV :
- T : 130/90 mmHg
- N : 80 x/mnt
- S : 37C
- Rr : 24 x/mnt
- BB sebelumnya : 55 kg
- BB sekarang : 57,5 kg
- TB : 159 cm
- Lila : 24 cm
- HPHT : 08 Maret 2010
- HPL : 15 Desember 2010
2. Pemeriksaan Fisik
- Kepala : simetris, tidak ada benjolan, tidak ada kelainan.
- Rambut : warna hitam, bersih, tidak rontok, kulit kepala bersih, tidak berketombe.
- Muka : simetris, tidak pucat, tidak ada oedem, tidak ada cloasma gravidarum, ibu tampak menahan sakit saat his datang sambil memegangi pinggang.
- Mata : conjungtiva palpebra merah muda, sklera putih.
- Hidung : simetris, bersih, tidak ada polip.
- Telinga : simetris, bersih, tidak ada kelainan.
- Mulut dan gigi : mukosa mulut dan bibir tidak kering, tidak pucat, tidak ada stomatitis, lidah bersih, tidak ada caries, tidak ada gigi berlubang.
- Leher : tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, tidak ada pembesaran vena jugularis.
- Dada :
Inspeksi : simetris, payudara membesar, hiperpigmentasi pada areola dan papila mamae, puting susu menonjol, bersih.
Palpasi : colostrum sudah keluar, tidak ada benjolan abnormal.
Auskultasi : tidak ada wezhing dan ronchi.
- Abdomen
Inspeksi : tidak ada luka bekas operasi, terdapat linea nigra dan striae albican
Palpasi : kontraksi uterus 4x dalam 10 menit lama 45 detik, teratur, kuat.
- TFU Mc Donal : 36 cm
TBJ = (TFU – 11) x 155
= (36 – 11) x 155
= 3875 gr.
Leopold I : bagian fundus teraba kurang bundar, lunak, tidak melenting (bokong).
Leopold II : perut sebelah kiri teraba bagian yang keras memanjang (puki), perut kanan teraba bagian-bagian kecil janin (ektremitas).
Leopold III : pada perut bagian bawah teraba bagian yang keras, bundar, melenting, tidak dapat digoyangkan (preskep).
Leopold IV : bagian terendah sudah masuk PAP, tangan divergen.
Perlimaan : bagian terendah teraba 2/5 bagian.
Auskultasi : DJJ 140x/menit, kuat di punctum maximum kiri bawah pusat.
Perkusi : tidak teraba getaran cairan dalam perut ibu.
UPL : DS : 25 cm
DC : 28 cm
BD : 19 cm
LP : 85 cm
- Ekstremitas : ekstremitas atas dan bawah tidak ada oedem, tidak ada varices, bentuk normal, tidak ada polidaktili dan sindaktili, pada ekstremitas bawah reflek patela +/+.
- Genetalia : tidak ada oedem, tidak ada varices, tidak ada kondilomatalata maupun condiloma acuminata, tidak ada pembesaran kelenjar bartholini, terdapat pengeluaran lendir bercampur darah dari jalan lahir.
- VT : v/v teraba kepala , pembukaan 9 cm, eff 90%, ketuban sudah pecah, presentasi kepala, denominator UUK ki dep, penurunan kepala Hodge III.
- Anus : tidak ada hemoroid, bersih, tak ada kelainan.
3. Pemeriksaan Penunjang
Hb : 11 gr%
Kurang kala???????????/

II. IDENTIFIKASI DIAGNOSA, MASALAH, DAN KEBUTUHAN
G1P00000, inpartu, kala I fase aktif, umur kehamilan 40 minggu, KU ibu baik, tunggal, hidup, intra uterine, situs bujur, habitus fleksi, presentasi kepala, puki, Hodge III, kesan panggul normal, keadaan jalan lahir baik, prognosa baik.
Masalah :
1. Nyeri pada waktu his
DS : - Ibu mengatakan hamil anak pertama,umur kehamilan 9 bulan.
- Ibu mengatakan perut terasa kenceng-kenceng.
- Ibu mengatakan hari pertama haid terakhir tanggal 08 maret 2010
DO : - KU ibu baik, kesadaran composmentis
- T : 130/90 mmHg
N : 80 x/mnt
S : 37C
Rr : 16 x/mnt
- Ibu tampak menahan sakit saat his datang sambil memegangi atas sympisis atau pinggang.
- HPL : 15 desember 2010
Leopold I : bagian fundus teraba kurang bundar, lunak, tidak melenting (bokong).
Leopold II : perut sebelah kiri teraba bagian yang keras memanjang (puki), perut kanan teraba bagian-bagian kecil janin (ektremitas).
Leopold III : pada perut bagian bawah teraba bagian yang keras, bundar, melenting, tidak dapat digoyangkan (preskep).
Leopold IV : bagian terendah sudah masuk PAP, tangan divergen.
Perlimaan : bagian terendah teraba 2/5 bagian.
- VT : v/v teraba kepala , pembukaan 9 cm, eff 90%, ketuban sudah pecah, presentasi kepala, denominator UUK ki dep, penurunan kepala Hodge III.


III. ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL
-

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA
-

V. PERENCANAAN
Tanggal 15 Desember 2010 Jam 09.30 WIB
1. Dx I : Ny. “A”, G1P00000, inpartu, kala I fase aktif, umur kehamilan 40 minggu, KU ibu baik, tunggal, hidup, intra uterine, situs bujur, habitus fleksi, presentasi kepala, puki, Hodge III, kesan panggul normal, keadaan jalan lahir baik, prognosa baik.

Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama 4 jam diharapkan ibu memasuki fase aktif.
Kriteria hasil :
- Pembukaan 4-10 cm
- His 3-4 x dalam 10 menit lama > 50 detik
- Djj normal 120 – 160 x/mnt.
Perencanaan :
1. Beri tahu hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga.
R/ : Ibu mengetahuai keadaan yang di alaminya.
2. Hadirkan orang yang dianggap penting oleh ibu seperti suami, keluarga atau teman terdekat.
R/ : Ibu merasa tenang dan semangat dalam menghadapi persalinan.
3. Anjurkan posisi atau aktivitas ibu senyaman mungkin
R/ : Ibu merasa nyaman pada waktu ada his.
4. Jaga privasi ibu
R/ : Menghindari ibu dari rasa malu.
5. Massage pada punggung atau usap perut ibu dengan lembut.
R/ : Otot-otot menjadi relaksasi dan aliran darah menjadi lancar.
6. Berikan cukup cairan
R/ : Memperbaiki sirkulasi darah dan mencegah dehidrasi serta memberikan energi yang cukup.
7. Pertahankan kandung kemih tetap kosong.
R/ : Agar tidak mengganggu proses penurunan kepala.
8. Gunakan tehnik sentuhan.
R/ : Memberikan rasa aman dan sikap membantu dalam proses persalinan.
9. Observasi his, djj, tanda-tanda kala II
R/ : Deteksi dini keadaan patologis.
10. Pemeriksaan dalam 4 jam lagi atau ketuban pecah.
R/ : Mengetahui kemajuan persalinan.

2. Masalah I : Nyeri sehubungan dengan kontraksi uterus.
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama ½ jam diharapkan ibu dapat beradaptasi dengan keadaannya.
Kriteria hasil : - Ibu terlihat tenang saat his.
- Ibu hanya meringis saat his.
- Ibu mau dan mampu melaksanakan teknik relaksasi.
Intervensi :
1. Jelaskan secara sederhana tentang penyebab nyeri, his, dan manfaatnya.
R/ : Ibu mengerti dan kooperatif dalam tindakan.
2. Ajarkan pada ibu teknik distraksi dan relaksasi.
R/ : Orientasi ibu terpecah sehingga menurunkan ambang batas nyeri.
3. Masalah II : Cemas sehubungan dengan persalinan yang akan dihadapi.
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama ½ jam diharapkan rasa cemas berkurang.
Kriteria hasil : - Ibu tampak tenang dalam menghadapi proses persalinan.
- Proses persalinan berjalan lancar.
Intervensi :
1. Bimbing ibu untuk menghadapi persalinan dengan baik.
R/ : Persiapan yang baik akan membantu lancarnya proses persalinan.
2. Jelaskan pada ibu bahwa keadaan ibu dan bayinya saat ini baik-baik saja.
R/ : Keadaan psikologis yang tenang membantu memperlancar proses persalinan.
3. Bimbing ibu untuk berdoa agar bayinya lahir selamat.
R/ : Psikis ibu menjadi tenang.

VI. IMPLEMENTASI
Tanggal 5-1-2009 jam 09.30 WIB
1. Dx I :
Kala I
1. Memberi tahu hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarga.
Ibu akan menjalani proses persalinan, keadaan ibu dan bayi sehat.
1. Menghadirkan orang yang dianggap penting oleh ibu.
- Memperbolehkan suami untuk menunggui ibu.
2. Menganjurkan posisi/aktivitas ibu senyaman mungkin.
- Menganjurkan untuk jalan-jalan bila capek tidur miring kiri.
3. Menjaga privasi ibu.
- Memasang sketsel dengan benar.
4. Memassage pada punggung/mengusap perut ibu dengan lembut.
5. Memberikan makanan dan minuman di luar his.
6. Mempertahankan kandung kemih tetap kosong.
- Menganjurkan ibu BAK bila terasa BAK.
7. Menggunakan teknik sentuhan.
- Memegang ibu saat ibu kesakitan.
8. Mengobservasi his, djj, tanda-tanda kala II
His 3x dalam 10 menit lama 45 detik, teratur, kuat.
Djj + (12, 12, 12) teratur, kuat.

Tanggal 5-1-2009 Jam 09.45 WIB
2. Masalah I : Nyeri sehubungan dengan kontraksi uterus.
1. Menjelaskan secara sederhana tentang penyebab nyeri, his, dan manfaatnya.
Nyeri berasal dari adanya kontraksi uterus. His yang sempurna akan membuat dinding korpus uteri yang terdiri atas otot-otot menjadi lebih tebal dan lebih pendek sedangkan bagian bawah uterus dan servik yang hanya mengandung sedikit otot dan banyak mengandung jaringan kolagen akan mudah tertarik hingga menjadi tipis dan membuka.
2. Mengajarkan pada ibu teknik distraksi dan relaksasi.
- Nafas panjang sewaktu ada his.

Tanggal 5-1-2009 Jam 10.00 WIB
3. Masalah II : Cemas sehubungan dengan persalinan yang akan dihadapi.
1. Membimbing ibu untuk menghadapi persalinan dengan baik.
2. Menjelaskan pada ibu bahwa keadaan ibu dan bayinya saat ini baik-baik saja.
3. Membimbing ibu untuk berdoa agar bayinya lahir selamat.

VII. EVALUASI
Tanggal 5-1-2009
1. Dx I :
Jam 11.00 WIB
S : - Ibu mengatakan kenceng-kenceng sering.
- Ibu mengatakan mengeluarkan cairan banyak.
O : - KU ibu baik, kesadaran composmentis.
- T : 120/80 mmHg
S : 36C.
N : 80 x/mnt
Rr : 20 x/mnt
- His 2 - 3 kali dalam 10 menit lama 40 – 45 ”, teratur, kuat.
- Ketuban pecah spontan warna jernih, jumlah 100 cc, bau amis.
- Djj  (12, 12, 12) teratur, kuat.
- VT : v/v taa,  6 cm, eff 75%, ketuban Θ, UUK ki dep, kepala Hodge II, spina ischiadika tidak menonjol, sudut arcus pubis > 90 .
A : G2P10001 uk 40 mg inpartu kala I, fase aktif dilatasi maksimal
P : 1) Mengobservasi TTV
2) Mengobservasi his, Djj, pembukaan, tanda-tanda kala II.
3) Memberikan makanan dan minuman di luar his

Jam 12.00 WIB
S : - Ibu mengatakan ingin mengejan dan merasakan tekanan pada anus.
O : - KU baik, kesadaran composmentis.
- Perineum menonjol, vulva membuka, anus membuka
- T : 120/80 mmHg
S : 36C.
N : 80 x/mnt
Rr : 20 x/mnt
- His 3 - 4 kali dalam 10 menit lama 50 ” teratur, kuat.
- Djj + (12, 12, 12) teratur, kuat.
- VT : v/v taa,  10 cm, eff 100%, ketuban Θ, presentasi kepala, kepala Hodge III, UUK ki dep.
A : G2P10001 uk 40 mg memasuki kala II , ku ibu dan janin baik.
P : 1) Mempersiapkan alat, obat-obatan dan persiapan diri.
2) Memberi tahu ibu dan keluarga bahwa pembukaan sudah lengkap dan mengatur posisi ibu.
3) Memimpin ibu untuk meneran pada waktu his.
4) Menganjurkan ibu istirahat dan minum jika tidak ada his.
5) Mengecek Djj diluar his.
6) Memasang handuk di atas perut ibu, memasang doek, membuka partus set saat kepala janin terpegang vulva dengan diameter 4-5 cm.
7) Menolong kelahiran kepala, bahu, badan dengan sangga susur
8) Memonitor kondisi bayi dengan 3 pertanyaan yaitu menangis spontan, warna kulit kemerahan, gerakan aktif.
Jam 12.10 bayi lahir spontan belakang kepala, menangis kuat gerakan aktif, warna kulit kemerahan, jenis kelamin laki-laki, bayi di bawa ke ruang terima bayi untuk dilakukan pengukuran dan identifikasi.BB bayi 4000 gr, PB 53 cm kemudian di bawa ke ruang bayi.

Jam 12.15 WIB
S : - Ibu mengatakan perut terasa mules.
O : - KU baik, kesadaran composmentis.
- T : 120/80 mmHg
S : 36C.
N : 80 x/mnt
Rr : 20 x/mnt
- Uterus teraba keras dan bundar, TFU setinggi pusat.
- Tali pusat tampak di luar vulva.
- Kandung kencing kosong.
A : P20002 memasuki kala III.
P : 1) Palpasi uterus untuk memastikan tidak ada bayi yang ke dua
2) Menyuntikkan Oksitosin 10 ui secara i.m di 1/3 paha luar.
3) Melakukan PTT pada waktu his
4) Melahirkan plasenta
5) Massage fundus uteri
6) Memeriksa kelengkaan plasenta
Jam 12.15 WIB placenta lahir spontan, lengkap, kotiledon 20 buah, diameter 20 cm, tebal 3 cm, selaput lengkap, insersi tali pusat sentralis, panjang tali pusat 50 cm.
7) Menyuntikan Metergin 0,2 mg i.m d 1/3 paha luar.

Jam 12.20 WIB
S : - Ibu mengatakan lega karena bayi dan placentanya telah lahir.
O : - KU baik, kesadaran composmentis.
- T : 110/80 mmHg
S : 36C.
N : 80 x/mnt
Rr : 20 x/mnt
- Perdarahan 150 cc.
- Uterus teraba keras dan bundar, TFU 1 jari bawah pusat.
- Terdapat robekan jalan lahir derajat II pada mukosa dan perineum
A : P20002 memasuki kala IV.
P :
- Melakukan penjahitan robekan jalan lahir.
- Memeriksa kembali kontraksi uterus dan tanda perdarahan pervaginam.
- Mengajarkan ibu untuk memeriksa kontraksi uterus dan ajarkan untuk melakukan massage uterus.
- Membersihkan lahan persalinan dan menyibin ibu.
- Mengobservasi :
1) Kontraksi 2 -3 x dalam 15 menit pertama pasca persalinan.
- Setiap 15 menit pada jam pertama pasca persalinan.
- Setiap 20 – 30 menit pada jam kedua pasca persalinan.
2) Tekanan darah, nadi, kandung kemih tiap 15 menit selama 1 jam pertama dan tiap 30 menit selama jam kedua pasca persalinan.
3) Suhu ibu setiap jam selama 2 jam pertama pasca persalinan.
- Memberi pesan pada ibu jika ada perdarahan banyak dan pusing untuk segera memanggil petugas.
- Memberi selamat pada ibu
- Melakukan pendokumentasian

Tanggal 5-1-2009 jam 10.15 WIB
2. Masalah 1 : Nyeri sehubungan adanya his.
S : - Ibu mengatakan kenceng-kenceng sering.
- Ibu mengatakan perut dan pinggang terasa nyeri.
O : - KU ibu baik.
- His 2 - 3 kali dalam 10 menit lama 45 ” teratur, kuat.
- Ibu tampak lebih tenang saat his datang.
- Ibu tidak berteriak-teriak.
- Ibu merasa sakit saat his sambil memegangi daerah atas sympisis.
A : G2P10001 ibu dapat beradaptasi saat his datang.
P : - Observasi TTV, his, pembukaan, Djj.

Tanggal 5-1-2009 Jam 10.30 WIB
3. Masalah II : Cemas sehubungan dengan persalinan yang akan dihadapi.
S : - Ibu mengatakan senang karena sebentar lagi bayinya akan lahir.
O : - KU baik.
- T : 120/80 mmHg
S : 36C.
N : 80 x/mnt
Rr : 20 x/mnt
- Ibu tampak tenang.
- Ibu tidak berteriak-teriak.
A : G2P10001 kecemasan ibu berkurang.
P : - Observasi tanda-tanda persalinan.

tinjauan nifas KELAINAN METABOLIK DAN ENDOKRIN DWARFISME PITUITARI

TUGAS MAKALAH
KELAINAN METABOLIK DAN ENDOKRIN
DWARFISME PITUITARI
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah asuhan kebidanan neonatus, bayi dan balita
Dosen Pengampu : Sundari, SST



Disusun oleh :
RENNY WINDA ROSIANI 09074106034


 
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-nya, karena kami masih diberi kesehatan untuk menyelesaikan tugas Makalah Kelainan Metabolik Dan Endokrin Dwarfisme Pituitari disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi Dan Balita.
Penyusun menyampaikan terimakasih kepada :
1. Ibu Rumpiati, SST selaku direktur Akbid Muhammadiyah Madiun.
2. Ibu Sundari, SST selaku dosen Mata Kuliah Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi Dan Balita.
3. Semua pihak yang telah membantu menyelesaikan Makalah Kelainan Metabolik Dan Endokrin Dwarfisme Pituitari.
4. Orang tua yang telah memberikan dukungan moril maupun materiil.
Penyusun menyadari adanya keterbatasan waktu dan tenaga serta kemampuan, sehingga masih banyak kesalahan pada Makalah Kelainan Metabolik Dan Endokrin Dwarfisme Pituitari, untuk itu penyusun menerima kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini. Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi penyusun, pembaca dan berbagai pihak.

Madiun, 24 Desember 2010

Penyusun
 
DAFTAR ISI
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan 1
C. Manfaat 2
BAB II TINJAUAN TEORI 3
A. Pengertian 3
B. Pembahasan 4
1. Kelenjar Pituitari (Hipofisis) 4
2. Cebol (Dwarfisme) 7
3. Penatalaksanaan gangguan metabolik dan endokrin 7
BAB IV PENUTUP 8
 
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hormon adalah senyawa organik yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin (kelenjar buntu). Hormon berfungsi mengatur pertumbuhan, reproduksi, tingkah laku, keseimbangan dan metabolisme. Hormon masuk ke dalam peredaran darah menuju organ target. Jumlah yang dibutuhkan sedikit namun mempunyai kemampuan kerja yang besar dan lama pengaruhnya karena hormon mempengaruhi kerja organ dan sel.
Kelenjar pituitari (hipofisis) berukuran kurang lebih 1 cm dengan berat 500 mg. Terletak di sella tursica dari tulang sphenoid. Sella tursica dekat dengan chiasma opticum. Kelenjar hipofise sebenarnya terdiri dari dua kelenjar, pituitari anterior yang berukuran lebih besar terletak di anterior atau disebut adenohipofise dan pituitari posterior atau neurohipofise. Pituitari anterior biasa juga disebut sebagai Master of gland, karena pengaruhnya pada kelenjar lain dan pada seluruh tubuh. Pengaruh ini dilaksanakan oleh 6 hormon yang diproduksi oleh sel yang berbeda- beda yang terdapat di lobus anterior hipofise, dan oleh dua hormon yang diproduksi oleh lobus posterior hipofise.
Letak pituitari berada dibawah hipotalamus, sebesar kacang ercis dan terdiri dari 3 lobus yang menghasilkan hormon-hormon berlainan. Kelenjar pituitari dapat terserang tumor, keracunan dari darah, penggumpalan darah dan infeksi penyakit. Hormon yang diekskresikan oleh lobus anterior atau adenophysis.
B. Tujuan
1. Umum
a. Memahami apa yang dimaksud dengan hormon.
b. Memahami apa yang kelainan metabolik dan endokrin.
 
2. Khusus
a. Memahami definisi hormon.
b. Memahami dwarfisme pituitari.
C. Manfaat
a. Bagi Mahasiswa
1. Meningkatkan pengetahuan tentang kelainan metabolik dan endokrin.
2. Menerapkan materi yang telah di dapatkan di dalam asuhan kebidanan.
b. Bagi Instansi
Memberikan tambahan referensi serta bahan acuan dalam penyusunan asuhan kebidanan pada masa yang akan datang tentang dwarfisme pituitari.
c. Bagi Masyarakat
Agar masyarakat mengetahui apa yang dimaksud dengan dwarfisme pituitari.
 
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengertian
Hormon adalah senyawa organik yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin (kelenjar buntu). Hormon berfungsi mengatur pertumbuhan, reproduksi, tingkah laku, keseimbangan dan metabolisme. Hormon masuk ke dalam peredaran darah menuju organ target. Jumlah yang dibutuhkan sedikit namun mempunyai kemampuan kerja yang besar dan lama pengaruhnya karena hormon mempengaruhi kerja organ dan sel.
Dwarfism adalah suatu kondisi di mana pertumbuhan individu sangat lambat atau tertunda, sehingga dalam waktu kurang dari tinggi badan orang dewasa normal. Kata pituitary mengacu pada kelenjar pituitari, yang mengatur produksi bahan kimia tertentu yang disebut hormon. Oleh karena itu, dwarfism hipofisis menurun pertumbuhan tubuh terutama disebabkan oleh masalah hormonal. Hasil akhirnya adalah orang yang sedikit proporsional, karena ketinggian dan pertumbuhan semua struktur lain dari individu menurun.
Kelenjar pituitari (hipofisis) berukuran kurang lebih 1 cm dengan berat 500 mg. Terletak di sella tursica dari tulang sphenoid. Sella tursica dekat dengan chiasma opticum. Kelenjar hipofise sebenarnya terdiri dari dua kelenjar, pituitari anterior yang berukuran lebih besar terletak di anterior atau disebut adenohipofise dan pituitari posterior atau neurohipofise. Pituitari anterior biasa juga disebut sebagai Master of gland, karena pengaruhnya pada kelenjar lain dan pada seluruh tubuh. Pengaruh ini dilaksanakan oleh 6 hormon yang diproduksi oleh sel yang berbeda- beda yang terdapat di lobus anterior hipofise, dan oleh dua hormon yang diproduksi oleh lobus oleh lobus posterior hipofise.
dwarfism hipofisis disebabkan oleh masalah yang timbul dari kelenjar pituitari. Kelenjar pituitari, juga disebut hipofisis, adalah sebuah kelenjar di dasar otak yang menghasilkan hormon yang berbeda. Kelenjar ini dibagi menjadi anterior (depan) dan posterior (belakang) bagian .
Proses Pertumbuhan dimulai di bagian bawah otak depan dalam sebuah organ kecil yang disebut hipotalamus. Hipotalamus melepaskan hormon-hormon yang mengatur produksi hormon lain. Bila hipotalamus melepaskan hormon-hormon pertumbuhan melepaskan (peningkatan GHRH), hipofisis anterior dirangsang untuk mengeluarkan hormon pertumbuhan (GH). Hormon pertumbuhan kemudian bekerja pada hati dan jaringan lainnya dan merangsang mereka untuk mengeluarkan faktor pertumbuhan insulin-seperti-1 (IGF-1). IGF-1 secara langsung mempromosikan perkembangan tulang dan otot, menyebabkan tulang tumbuh panjang, dan otot untuk meningkatkan sintesis protein (membuat protein lebih).
Karena pertumbuhan adalah sebuah fenomena yang kompleks, mungkin akan diperlambat atau dihentikan oleh kelainan yang timbul pada setiap titik dalam proses. Dengan demikian, kekerdilan bisa terjadi jika ada kekurangan dalam hormon ini, jika ada kegagalan dalam sel reseptor menerima rangsangan hormon, atau jika sel target tidak dapat merespon.
Yang paling mendasar, hasil dwarfisme hipofisis dari penurunan produksi hormon oleh hipofisis anterior. Ketika tidak ada hormon dari hipofisis anterior cukup dihasilkan, ini panhypopituitarism disebut Bentuk umum dwarfism hipofisis adalah karena kekurangan dalam produksi hormon pertumbuhan (GH). Ketika GH kurang dari normal dihasilkan selama masa kanak-kanak individu lengan, kaki, dan struktur lainnya terus berkembang dalam proporsi normal, tetapi pada tingkat yang menurun.
B. Pembahasan
1. Kelenjar Pituitari (Hipofisis)
Kelenjar pituitari disebut juga master of gland karena semua hormon yang dihasilkan merangsang organ untuk menyekresikan hormon lain. Letak pituitari berada dibawah hipotalamus, sebesar kacang ercis dan terdiri dari 3 lobus yang menghasilkan hormon-hormon berlainan. Kelenjar pituitari dapat terserang tumor, keracunan dari darah, penggumpalan darah dan infeksi penyakit. Hormon yang diekskresikan oleh lobus anterior atau adenophysis :
a. Somatotropin/Growth Hormone(GH), merangsang sintesis protein, menambah metabolisme lemak dan merangsang pertumbuhan tulang dan otot. Kelebihan hormon ini menyebabkan gigantisme atau pertumbuhan raksasa. Kelebihan pada dewasa menyebabkan akromegali, suatu kelainan akibat pertumbuhan yang tidak seimbang pada persedian dan ujung tulang seperti tulang jari tangan, rahang atau hidung. Defisiensi hormon menyebabkan pertumbuhan terhambat dan kerdil atau dwarfisme.
b. Thyroid Stimulating Hormone(TSH), merangsang pertumbuhan kelenjar tiroid dan pengeluaran hormon tiroksin. Sekresi TSH dihambat oleh tiroksin. Kelebihan hormon ini menyebabkan gondok.
c. Adenocorticotropic Hormone (ACTH), merangsang korteks kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon (glukokortikoid dan mineralokortikoid) ke dalam darah dan pertumbuhan dan perkembangan aktivitas kulit ginjal. ACTH juga berpengaruh dalam pengontrolan emosi karena merangsang pengeluaran Hydrocortisone oleh kelenjar adrenal bagian korteks. Produksi ACTH dikontrol oleh hipotalamus dan level hormon yang dihasilkan oleh korteks kelenjar adrenal. ACTH digunakan dalam bidang medis untuk anti pembengkakan yang disebabkan oleh alergi dan arthritis.
d. Prolactin(PRL) atau Lactogenic Hormone(LTH) atau Luteotropic Hormone atau Mammotropic Hormone, merangsang sekresi susu setelah kelahiran, meningkatkan reabsorpsi air dan garam di ginjal saat menstruasi, mengatur pertumbuhan dan perkembangan kelenjar mammae pada wanita hamil dan memelihara corpus luteum untuk memproduksi air susu ibu dan progesteron.
e. β-lipotropin(β-LPH), meningkatkan metabolisme lemak dan dapat membentuk ACTH.
f. Melanocyte Stimulating Hormone(MSH), merangsang sekresi melanin pada sel melanosit sehingga menambah warna kulit menjadi lebih gelap.
g. Gonadotropin adalah hormon yang dihasilkan untuk merangsang kerja dari alat kelamin. Gonadotropin terbagi 2 yaitu :
1) Follicle Stimulating Hormone(FSH) bekerja pada gonad (alat kelamin). Pada wanita, FSH merangsang perkembangan folikel de Graaf di ovarium. Bersama dengan LH, FSH merangsang sekresi estrogen oleh folikel de Graaf dan pematangan sel telur. Pada pria, FSH merangsang testes mensekresikan androgen ke aliran darah dan merangsang terjadinya spermatogenesis/pembentukan sel sperma pada tubulus seminiferus di testes. Sekresi FSH dihambat oleh progesteron yang dihasilkan oleh korpus luteum sehingga tidak terjadi pemtangan telur di ovarium. Interstitial Cell Stimulating Hormone(ICSH), merangsang sel-sel interstitial testis untuk memproduksi androgen dan testosteron. Luteinizing Hormone(LH) berkerja pada gonad (alat kelamin). Pada wanita, ketika folikel atau sel telur sudah matang, LH merangsang pemecahan folikel de Graaf sehingga sel telur keluar dan siap dibuahi sperma. LH merangsang perubahan folikel de Graaf menjadi corpus luteum dan merangsang corpus luteum mensekresikan hormon progesteron. Pada pria, LH bekerja pada sel-sel endokrin dalam testes, tepatnya sel-sel interstisium dan merangsang testes mengeluarkan androgen ke dalam darah.
2) Chrorionic Gonadotropin, berfungsi untuk menjaga perkembangan janin dan disekresikan oleh plasenta saat wanita hamil. Lobus intermediate diketahui mensekresikan MSH namun tidak banyak yang dipengaruhi dan dihasilkan oleh bagian ini. Hormon yang dihasilkan oleh lobus posterior atau neurophysis :
a) Antidiuretic Hormone(ADH) atau Vasopressin, merangsang reabsorpsi air di tubulus ginjal dan menyebabkan dinding arteriol berkontraksi sehingga mempersempit rongga pemubuluh darah dan meningkatkan tekanan darah. ADH juga mengontrol kadar air dalam tubuh. Kekurangan ADH menyebabkan urin dalam jumlah berlebihan dan disebut diabetes insipidus.
b) Oxytocin, merangsang kontraksi otot polos yang melapisi uterus dan mempercepat pengembalian uterus ke ukuran semula. Oxytocin juga merangsang proses pengeluaran susu pada proses menyusui.
2. Cebol (Dwarfisme)
Dwarfisme dapat disebabkan oleh defisiensi GRH, defisiensi IGF-I, atau penyebab lainnya. Beberapa kasus dwarfisme disebabkan oleh defisiensi seluruh sekresi kelenjar hipofisis anterior atau disebut panhipopituitarisme selama masa anak-anak. Pada umumnya, pertumbuhan bagian-bagian tubuh sesuai satu sama lain, tetapi kecepatan pertumbuhannya sangat berkurang. Defisiensi hormon pertumbuhan biasanya disebabkan oleh defisiensi GRH. Pada keadaan ini, respons hormon pertumbuhan terhadap GRH tetap normal, tetapi sebagian penderita mengalami kelainan pada sel-sel pensekresi hormon pertumbuhan.
Pada satu tipe dwarfisme, yaitu pada Lorain dwarf, kecepatan sekresi hormon pertumbuhannya normal atau malahan tinggi, namun penderita mengalami ketidak mampuan herediter untuk membentuk somastostatin sebagai respons terhadap hormon pertumbuhan. Perawakan pendek merupakan ciri kretinisme dan juga pubertas prekoks. Perawakan pendek juga merupakan bagian dari sindrom disgenesis gonad yang tampak pada penderita berkromosom XO (bukan XX atau XY). Anak-anak menderita child abuse juga dapat menderita kecebolan yang disebut cebol psikososial. Bentuk cebol yang paling sering terjadi pada manusia adalha akondropalsia. Tanda-tandanya adalah ekstremitas pendek dengan batang tubuh tetap normal. Kelainan ini adalah penyakit genetic autosom akibat mutasi gen.
3. Penatalaksanaan gangguan metabolik dan endokrin
Setiap bayi lahir berada dalam keadaa telanjang basah dan sebagian menderita asfiksia. Dengan demikian bayi dengan panas tubuh oleh karena perbedaan suhu dalam kandunagan dan dunia luar yang cukup besar. Kehilangan panas pada BBL ialah memalui konduksi,konveksi,evavorasi,dan radiasi dari permukaan tubuh. BBL jarang sekali menggigil walaupun kedinginan dan karena aktifitas otot juga terbatas.,tentu diperlukan suatu aktivitas metabolic. Produksi panas yang tidak terdapat pada orang dewasa. Kehilangan panas pada bayi yang saja lahir dapat mencapai 200 kalori penyebabnya ialah karena bayi lahir dalam keadaan basah. Kehilangan panas dapat lebih banyak lagi dari lingkungan yang terlalu panas dengan pernapasan yang cepat vasodilatasi. Walaupun produksi kwringat sangat sedikit pada umur 6 minggu pertama. Penaikan suhu yang mendadak akan menyebabkan bayi gelisah,haus dan meninggikan kecepatan metabolisme. Metabolisme berarti berguna bagi oksigen dan kecepatan metabolisme dinyatakan dalam mioksigen / kilogram BB,pada suhu dan tekanan gas yang kering.
Pengobatan hipopituitari mencakup penggantian hormone yang kurang, seperti pemberian GH pada pasien yang menderita dwarfisme hipofisis yang dapat menyebabkan peningktan tinggi badanyang berlebihan.pemberian hidrokortison oral untuk defisiensi ACTH. Pemberian tiroksin oral dapat mengobati hipotiroidisme yang diakibatkan oleh defisiensi TSH, pemberian androgen dan estrogen dapat mengobati defisiensi gonadotropin tersebut dapat menginduksi ovulasi.
Diagnostik : Defisiensi hormon tumbuh sering tersembunyi (cryptic) dan hanya bisa diketahui dengan melaksanakan tes stimulasi terhadap somatotropin. Dengan foto roentgen/CT-scan mungkin bisa ditemukan mikro/makroadenoma dari hipofisis.
Adapun terapi meliputi : Terapi substitusi (somatotropin dan juga hidrokrotison, tiroksin dan testosterone pada pria dan estrogen pada wanita). Terapi substitusi (tergantung apa yang kurang Somatotropin saja). Growth-hormone binding proteins dan Kausal : ekstirpasi/ radiasi dari mikro-/ makroadenoma.
 
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dwarfism adalah suatu kondisi di mana pertumbuhan individu sangat lambat atau tertunda, sehingga dalam waktu kurang dari tinggi badan orang dewasa normal. Kata pituitary mengacu pada kelenjar pituitari, yang mengatur produksi bahan kimia tertentu yang disebut hormon. Oleh karena itu, dwarfism hipofisis menurun pertumbuhan tubuh terutama disebabkan oleh masalah hormonal. Hasil akhirnya adalah orang yang sedikit proporsional, karena ketinggian dan pertumbuhan semua struktur lain dari individu menurun.
B. Saran
Untuk pencegahan perlu pemantauan janin secara dini. Pengobatan hipopituitari mencakup penggantian hormone yang kurang, seperti pemberian GH pada pasien yang menderita dwarfisme hipofisis yang dapat menyebabkan peningktan tinggi badanyang berlebihan.pemberian hidrokortison oral untuk defisiensi ACTH. Pemberian tiroksin oral dapat mengobati hipotiroidisme yang diakibatkan oleh defisiensi TSH, pemberian androgen dan estrogen dapat mengobati defisiensi gonadotropin tersebut dapat menginduksi ovulasi.

ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS

ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS
PADA NY.”N” USIA 30 TAHUN P30003 POST PARTUM 12 HARI
DENGAN TROMBOFLEBITIS FEMORALIS

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Askeb III (Nifas)
Dosen Pengampu Rheny Widi Wardani, SST




Disusun Oleh : Kelompok III

AKADEMI KEBIDANAN MUHAMMADIYAH
MADIUN
2010


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Nifas atau puerperium adalah periode waktu atau masa dimana organ-organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil. Masa ini membutuhkan waktu sekitar 6 minggu (Varney, Helen, 2001:225). Dari definisi lain menyebutkan, Masa nifas atau masa puerperium mulai setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu (Wiknjosastro, Hanifa,1999:237).
Infeksi nifas adalah keadaan yang mencakup semua peradangan alat-alat genitalia dalam masa nifas. (Adele Pillitteri, 2007). Salah satu infeksi pada masa nifas adalah : Tromboflebitis merupakan inflamasi permukaan pembuluh darah disertai pembentukan pembekuan darah. Tromboflebitis cenderung terjadi pada periode pasca partum pada saat kemampuan penggumpalan darah meningkat akibat peningkatan fibrinogen, dilatasi vena ekstremitas bagian bawah disebabkan oleh tekanan kepala janin kerena kehamilan dan persalinan, dan aktifitas pada periode tersebut yang menyebabkan penimbunan, statis dan membekukan darah pada ekstremitas bagian bawah (Adele Pillitteri, 2007).
Perlu dibutuhkan pemantauan khusus terhadap ibu nifas yang mengalami keluhan-keluhan yang diperkirakan akan mengarah ke gejala patologis masa nifas.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
a. Memahami Apa yang dimaksud dengan nifas dan infeksi yang mungkin timbul.
b. Memahami klasifikasi Tromboflebitis.
 
2. Tujuan Khusus
a. Pentingnya penangganan yang baik pada masa nifas.
b. Ibu mampu mendeteksi secara dini penyakit atau infeksi yang mungkin timbul setelah persalinan.
C. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
a. Meningkatkan pengetahuan tentang asuhan kebidanan masa nifas.
b. Menerapkan pengetahuan yang diperoleh dan menerapkanya dalam asuhan sesungguhnya di lapangan.
2. Bagi Masyarakat
Mengetahuai apa yang dimaksud tromboflebitis femoralis, dan hendaknya kerjasama dengan petugas kesehatan.
3. Bagi Instusi
Memberikan tambahan referensi serta bahan acuan dalam penyusunan asuhan kebidanan pada masa nifaskhusunya tromboflebitis femoralis.
 
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengertian
Tromboflebitis merupakan inflamasi permukaan pembuluh darah disertai pembentukan pembekuan darah. Tromboflebitis cenderung terjadi pada periode pasca partum pada saat kemampuan penggumpalan darah meningkat akibat peningkatan fibrinogen, dilatasi vena ekstremitas bagian bawah disebabkan oleh tekanan kepala janin kerena kehamilan dan persalinan, dan aktifitas pada periode tersebut yang menyebabkan penimbunan, statis dan membekukan darah pada ekstremitas bagian bawah (Adele Pillitteri, 2007).
Tromboflebitis adalah perluasan atau invasi mikroorganisme patogen yang mengikuti aliran darah di sepanjang vena dan cabang-cabangnya (Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal, 2002).
B. Klasifikasi
Tromboflebitis dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Pelvio tromboflebitis
Pelvio tromboflebitis mengenai vena-vena dinding uterus dan ligamentum latum, yaitu vena ovarika, vena uterina dan vena hipograstika. Vena yang paling sering terkena ialah vena overika dekstra karena infeksi pada tempat implantasi plasenta terletak dibagian atas uterus, proses biasanya unilateral. Perluasan infeksi dari vena ovarika dekstra, mengalami inflamasi dan akan menyebabkan perisalpingo-ooforitis dan peridiapendisitis. Perluasan infeksi dari vena uterna ialah ke vena iliaka komunis. Biasanya terjadi sekitar hari ke-14 atau ke-15 pasca partum.
2. Tromboflebitis femoralis
Tromboflebitis femoralis mengenai vena-vena pada tungkai, misalnya vena vemarolis, vena poplitea dan vena safena. Sering terjadi sekitar hari ke-10 pasca partum (Abdul Bari SAifudin, dkk., 2002).

C. Penyebab
1. Perluasan infeksi endometrium
2. Mempunyai varises pada vena
3. Obesitas
4. Pernah mengalami tramboflebitis
5. Berusia 30 tahun lebih dan pada saat persalinan berada pada posisi stir up untuk waktu yang lama
6. Memiliki insidens tinggi untuk mengalami tromboflebitis dalam keluarga. (Adele Pillitteri, 2007)

D. Tanda dan Gejala
1. Pelvio Tromboflebitis
Nyeri yang terdapat pada perut bagian bawah dan atau perut bagian samping, timbul pada hari ke-2-3 masa nifas dengan atau tanpa panas.
2. Penderita tampak sakit berat dengan gambaran karakteristik sebagai berikut:
a. Menggigil berulang kali, menggigil terjadi sangat berat (30-40 menit) dengan interval hanya beberapa jam saja dan kadang-kadang 3 hari pada waktu menggigil penderita hampir tidak panas.
b. Suhu badan naik turun secara tajam (36 oC menjadi 40 oC) yang diikuti penurunan suhu dalam 1 jam (biasanya subfebris seperti pada endometritis)
c. Penyaklit dapat langsung selama 1-3 bulan
d. Cenderung terbentuk pus, yang menjalar kemana-mana, terutama ke paru-paru
3. Gambaran darah
a. Terdapat leukositosis (meskipun setelah endotoksin menyebar kesirkulasi, dapat segera terjadi leukopenia)
b. Untuk membuat kultur darah, darah diambil pada saat tepat sebelum mulainya menggigil, kultur darah sangat sukar dibuat karena bakterinya adalah anaerob.
c. Pada periksa dalam hampir tidak diketemukan apa-apa karena yang paling banyak terkena adalah vena ovarika; yang sukar dicapai dalam pemeriksaan dalam.
4. Tromboflebitis femoralis
a. Keadaan umum tetap baik, suhu badan subfebris selama 7-10 hari, kemudian suhu mendadak naik kira-kira pada hari ke-10-20 yang disertai dengan menggigil dan nyeri sekali.
b. Pada salah satu kaki yang terkena, biasanya kaki kiri akan memberikan tanda-tanda sebagai berikut:
1) Kaki sedikit dalam keadaan fleksi dan rotasi keluar serta sukar bergerak, lebih panas dibandingkan dengan kaki lainnya.
2) Seluruh bagian dari salah satu vena pada kaki terasa tegang dan keras pada paha bagian atas
3) Nyeri hebat pada lipat paha dan daerah paha
4) Reflektorik akan terjadi spasmus arteria sehingga kaki menjadi bengkak, tegang, putih, nyeri, dan dingin dan pulsasi menurun.
5) Kadang-kadang terjadi sebelum atau sesudah nyeri dan pada umumnya terdapat pada paha bagian atas, teatapi lebih sering dimulai dari jari-jari kaki dan pergelangan kaki kemudian melus dari bawah ke atas.
6) Nyeri pada betis, yang terjadi spontan atau dengan memijat betis atau dengan meregangkan tendo akhiles(tanda homan positif)
E. Penatalaksanaan
1. Pelvio Tromboflebitis
a. Lakukan pencegahan terhadap endometritis dan tromboflebitis dengan menggunakan teknik aseptik yang baik
b. Rawat inap : penderita tirah baring untuk pemantauan gejala penyakit dan mencegah terjadinya emboli pulmonum
c. Terapi medik: pemberian antibiotika, heparin terdapat tanda-tanda atau dugaan adanya emboli pulmonum
d. Terapi operatif : pengikatan vena kava inferior dan vena ovarika jika emboli septik terus berlangsung sampai mencapai paru-paru; meskipun sedang dilakukan hipernisasi, siapkan untuk menjalani pembedahan.
2. Tromboflebitis Femoralis
a. Anjurkan ambulasi dini untuk meningkatkan sirkulasi pada ekstremitas bawah dan menurunkan kemungkinan pembentukan pembekuan darah.
b. Pastikan klien untuk tidak berada pada posisi litotomi dan menggantung kaki lebih dari 1 jam, dan pastikan untuk memberikan alas pada penyokong kaki guna mencegah adanya tekanan yaang kuat pada betis.
c. Sediakan stocking pendukung kepada klien pasca patrum yang memiliki varises vena untuk meningkatkan sirkulasi vena dan membantu mencegah kondisi stasis.
d. Instruksikan kepada klien untuk memakai stocking pendukung sebelum bangun pagi dan melepaskannya 2x sehari untuk mengkaji keadaan kulit dibawahnya.
e. Anjurkan tirah baring dan mengangkat bagian kaki yang terkena.
f. Dapatkan nilai pembekuan darah perhari sebelum obat anti koagulan diberikan.
g. Berikan anti koagulan, analgesik, dan anti biotik sesuai dengan resep.
h. Berikan alat pamanas seperti lampu. Atau kompres hangat basah sesuai instruksi, pastikan bahwa berat dari kompres panas tersebut tidak menekan kaki klien sehingga aliran darah tidak terhambat.
i. Sediakan bed cradle untuk mencegah selimut menekan kaki yang terkena.
j. Ukur diameter kaki pada bagian paha dan betis dan kemudian bandingkan pengukuran tersebut dalam beberapa hari kemudian untuk melihat adanya peningkatan atau penurunan ukuran.
k. Dapatkan laporan mengenai lokea dan timbang berat pembalut perineal untuk mengkaji pendarahan jika klien dalam terapi antikoagulan.
l. Kaji adanya kemungkinan tanda pendarahan lain, misalnya: pendarahan pada gusi, bercak ekimosis, pada kulit atau darah yang keluar dari jahitan episiotomi.
m. Yakinkan klien bahwa heparin yang diterimanya dapat dilanjutkan pada masa menyusui karena obat ini tidak akan berada didalam air susu.
n. Siapkan pemberian protamin sulfat sebagai antagonis heparin.
o. Jelaskan pada klien mengenai pemberian heparin yang harus dilakukan melalui terapi sub kutan
p. Jelaskan kepada klien bahwa untuk kehamilan selanjutnya ia harus memberitahukan tenaga kesehatan yang dia hadapi untuk memastikan bahwa pencegahan trombofrebitis yang tepat telah dlakukan.
(Adele Pillitteri, 2007)











 
BAB III
TINJAUAN KASUS

Tanggal : 3 Desember 2010 Waktu : 08.30 WIB
Tempat : BPS Permata Bunda

I. PENGKAJIAN DATA
A. Data Subyektif
1. Identitas
Nama Pasien : Ny.”N” Nama Suami : Tn.”Y”
Umur : 30 Tahun Umur : 31 Tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Suku/ Bangsa : Jawa/ Indonesia Suku/ Bangsa : Jawa/ Indonesia
Pendidikan : SD Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Petani Pekerjaan : Petani
Penghasilan : ± Rp 300.000,- Penghasilan : ± Rp 500.000,-
2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan, nyeri hebat pada daerah paha dan kaki sebelah kiri sulit di gerakkan, badan terasa panas disertai menggigil.
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
Ibu mengatakan saat ini tidak sedang menderita penyakit menurun dengan gejala sering makan, sering minum, sering kencing (DM), nyeri pada ulu hati (Hipertensi), menahun seperti jantung berdebar-debar (jantung), menular seperti batuk tidak sembuh-sembuh (TBC).
b. Riwayat kesehatan yang lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menurun dengan gejala sering makan, sering minum, sering kencing (DM), nyeri pada ulu hati (Hipertensi), menahun seperti jantung berdebar-debar (jantung), menular seperti batuk tidak sembuh-sembuh (TBC).
c. Riwayat kesehatan keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit menurun dengan gejala sering makan, sering minum, sering kencing (DM), nyeri pada ulu hati (Hipertensi), menahun seperti jantung berdebar-debar (jantung), menular seperti batuk tidak sembuh-sembuh selama 2 minggu dan berdarah (TBC), kencing seperti teh (Hepatitis).Dalam keluarga tidak ada yang mempunyai riwayat keturunan kembar baik dari ibu maupun suami.
4. Data Kebidanan
a. Riwayat menstruasi
Menarche : Umur 14 tahun
Siklus : 28 hari, teratur
Lamanya : 7 hari
Keluhan : -
Jenis : Cair kadang bergumpal
Warna : Merah segar
Bau : Anyir
HPHT : 14 Februari 2010
HPL : 21 November 2010
b. Status perkawinan
Pasien Suami
Umur kawin : 23 Tahun Umur kawin: 28 Tahun
Lama kawin : 7 Tahun Lama kawin: 7 Tahun
Perkawinan ke : 1 Perkawinan ke : 1

c. Riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu:
No Kehamilan Umur
Kehamilan Jenis
Partus Tempat
Partus Penolong Penyulit
1 Pertama Aterm Normal Rumah Dukun Tidak Ada
2 Kedua Aterm Normal Rumah Dukun Tidak Ada

d. Riwayat nifas dan anak yang lalu:
Anak Nifas
No Jenis
Kelamin BB
(kg) PB
(cm) Keadaan
Anak Laktasi
(bulan) Perdarahan Nifas
(hari) Ket
1 Perempuan 2,9 49 Sehat 6 Normal - -
2 Perempuan 2,8 50 Sehat 6 Normal - -
e. Riwayat kehamilan dan persalinan sekarang
Ibu mengatakan pada kehamilan anak ketiga ini, ibu tidak pernah memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan atau bidan. Pada tanggal 21 November 2010 pukul 04.00 WIB telah melahirkan anak ketiganya berjenis kelamin Laki-Laki, cukup bulan, BB: 3000 gram, PB: 51 cm, lahir normal, bayi menangis spontan dan dibantu oleh dukun.
f. Riwayat keluarga berencana
Jenis KB yang digunakan : -
Efek samping : -
Lamanya KB : -
Alasan berhenti : -
5. Pola Kebiasaan Sehari-hari
a. Nutrisi
Sebelum melahirkan : Ibu makan 3 kali/hari, dengan porsi satu piring nasi, sayur ½ mangkok, lauk 1 potong tempe1 potong tahu kadang ikan, kadang makan buah. Ibu minum air putih 8-12 gelas /hari dan minum susu 2 gelas / hari.
Sesudah melahirkan : Ibu mengatakan tidak begitu nafsu makan, makan 2 kali/hari dengan porsi 1 piring nasi, sayur ½ mangkok, lauk 1 potong tempe kadang ikan atau telur, kadang makan buah. Ibu banyak minum air putih 12-14 gelas/hari. Dan minum susu 2 gelas/hari
b. Eliminasi
Sebelum melahirkan : BAB : 1 kali/hari konsistensi lunak.
BAK : 4-5 kali/hari, warna kuning jernih, bau khas.
Sesudah melahirkan :BAB : 1 kali/hari, konsistensi lunak
BAK : 3-4 kali/hari, warna kuning jernih, bau khas.
c. Istirahat
Sebelum melahirkan : Ibu mengatakan tidur malam 7-8 jam/hari, tidur siang 1 jam.
Sesudah melahirkan : Ibu mengatakan sulit tidur karena nyeri pada betisnya, sehingga hanya tidur malam 5-6 jam, dan tidak tidur siang.
d. Personal Hygiene
Sebelum melahirkan : Ibu mandi 2 kali/hari, ganti pakaian 2 kali/hari, ganti celana dalam 2 kali/hari atau ganti kalau merasa lembab, keramas 2 kali/minggu, cuci tangan sesudah BAK dan BAB, cuci tangan sebelum dan sesudah makan.
Sesudah melahirkan : Ibu mandi 2 kali/hari, ganti pakaian 2kali/hari, ganti celana dalam 3-4 kali/sehari, keramas 2 kali/minggu, ganti pembalut 3 kali/hari atau kalau merasa penuh, cuci tangan sesudah BAK dan BAB, cuci tangan sebelum dan sesudah makan.
e. Seksual
Sebelum melahirkan : 1x seminggu, karena perut membesar ibu merasa kurang nyaman untuk melakukan hubungan seksual.
Setelah melahirkan : Ibu tidak melakukan hubungan seksual karena masih mengeluarkan darah dan merasakan sakit pada pahanya.
f. Pola Ketergantungan
Ibu mengatakan tidak pernah merokok, dan mengkonsumsi jamu kunir asam.
6. Data Psikososial dan Agama
Ibu mengatakan hubungan ibu dengan keluarga baik, hubungan ibu dengan masyarakat juga baik, ibu melaksanakan ibadah sholat 5 waktu dan mengikuti pengajian 1x dalam seminggu.

B. DATA OBYEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
a. Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
BB sekarang : 56 kg
BB sebelumnya : -
TB : 157 cm
LILA : 25 cm
b. Tanda-tanda vital
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 88x /menit
Suhu : 38 oC
Rr : 22x /menit
2. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala : Simetris, tidak ada benjolan.
Rambut : Bersih, tidak rontok, tidak ada ketombe, warna rambut hitam, penyebaran merata.
Muka : Pucat, tidak tampak oedema, tidak sembab, tidak pada muka terdapat cloasma gravidarum.
Mata : Simetris, sklera putih, konjungtiva palpebra merah muda.
Hidung : Simetris, bersih, tidak ada polip, tidak ada secret.
Telinga : Bersih, simetris, tidak ada serumen.
Gigi dan Mulut : Bersih, tidak ada karies gigi, gusi tidak berdarah, bibir pucat, tidak ada stomatitis.
b. Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, kelenjar limfe, dan pembesaran vena jugularis.
c. Dada : Simetris, pernafasan teratur.
d. Payudara : Pembesaran payudara, hiperpigmentasi mammae dan papila, putting susu menonjol, colostrum sudah keluar dan mengeluarkan ASI.
e. Axila : Tidak ada pembesaran kelenjar limfe.
f. Abdomen : Bersih, fundus tidak teraba, tidak ada luka bekas operasi, terdapat striae albican.
g. Genetalia : Bersih, tidak ada jaringan parut, mengeluarkan cairan kekuningan, tidak berbau, vulva kebiruan, tidak ada varises, tidak ada condiloma acuminata (bintil-bintil cairan) maupun condiloma matalata (jengger ayam).
h. Anus : Bersih, Tidak ada haemorhoid.


i. Ekstermitas :
Atas : Simetris, tidak ada kelainan fungsi anatomi, gerak bebas.
Bawah : Ada oedema, kaki kiri bengkak dan kemerahan, nyeri pada betis, jari-jari lengkap, kaki kiri sulit digerakkan, simetris kanan-kiri.
3. Pemeriksaan Penunjang
Hb : 11 gr%

II. INTERPRETASI DATA
Dx : Ny.”N” usia 30 tahun P30003 post partum 12 hari dengan tromboflebitis femoralis.
Ds : Ibu mengeluh, nyeri hebat pada daerah paha dan kaki sebelah kiri sulit di gerakkan, badan terasa panas disertai menggigil.
Do : Keadaan umum baik
Kontraksi uterus baik
Lochea serosa normal
TTV
TD : 120/80 mmHg Suhu : 38°C
Nadi : 88x /menit Rr : 22x /menit

III. DIAGNOSA MASALAH POTENSIAL DAN ANTISIPASI
Tidak ada

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN AKAN TINDAKAN SEGERA ATAU KOLABORASI
Tidak ada



V. MERENCANAKAN ASUHAN YANG MENYELURUH
1. Jelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu.
R/ ibu lebih kooperatif dengan tindakan petugas.
2. Jelaskan kepada ibu penyebab rasa nyeri hebat pada daerah paha dan kaki serta cara mengatasinya.
R/ ibu mengetahui penyebab dan cara mengatasi nyeri hebat pada daerah paha dan kaki yaitu merupakan proses yang fisiologis pada masa nifas.
3. Jelaskan pada ibu tentang kebutuhan dasar nifas.
R/ ibu mengetahui kebutuhan dasarnya dan dapat memenuhinya.
4. Pemberian vitamin A, vitamin C, dan tablet Fe.
R/ untuk memperlancar asi dan mencegah anemia.
5. Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi nutrisi secara adekuat.
R/ kebutuhan ibu dapat terpenuhi sehingga produksi ASI lancar
6. Jelaskan kepada ibu mengenai KB.
R/ ibu mengetahui alat kontrasebsi yang baik buat ibu.
6. Jelaskan kapada ibu tentang perawatan bayi.
R/ ibu mengetahui tentang cara merawat bayi yang benar.

VI. IMPLEMENTASI
1. Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu bahwa keadaan ibu baik.
2. Menjelaskan kepada ibu penyebab rasa nyeri hebat pada daerah paha
dan kaki, merupakan inflamasi permukaan pembuluh darah disertai pembentukan pembekuan darah. Tromboflebitis cenderung terjadi pada periode pasca partum pada saat kemampuan penggumpalan darah meningkat akibat peningkatan fibrinogen dan dilatasi vena ekstremitas bagian bawah yang disebabkan oleh tekanan kepala janin karena kehamilan dan persalinan, dan aktifitas pada periode tersebut yang menyebabkan penimbunan, statis dan membekukan darah pada ekstremitas bagian bawah.
Cara mengatasi:
a. Tirah baring dan mengangkat bagian kaki yang terasa nyeri.
b. Mengompres kaki yang nyeri dengan air hangat
3. Jelaskan pada ibu tentang kebutuhan dasar nifas meliputi:
a) Personal hygiene,
b) Istirahat,
c) Eliminasi,
d) Hubungan seksual, dan
e) Perawatan payudara
4. Memberikan vitamin A, vitamin C, dan tablet Fe kepada ibu.
5. Menganjurkan ibu untuk mengonsumsi nutrisi secara adekuat.

VII. EVALUASI
S : Ibu mengatakan sudah mengerti tentang informasi dan penjelasan dari petugas kesehatan, ditandai dengan ibu dapat mejelaskan kembali sebagian dari informasi tersebut.
O :
Keadaan Umum : baik
Kesadaran : composmentis
TTV
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 88x /menit
Suhu : 38 oC
Rr : 22x /menit
A : Ny.”N” usia 30 tahun P30003 post partum 12 hari dengan tromboflebitis femoralis
P :
1. Menganjurkan pada ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi untuk ibu nifas.
2. Menganjurkan ibu untuk melibatkan keluarga dalam kegiatan-kegiatan ibu.
3. Menganjurkan ibu untuk melakukan perawatan payudara
4. Memberi terapi amoksilin 500 mg 3x1
5. vitamin C 15 mg 3x1, B Comp 10 mg 3x1, Parasetamol 500 mg (bila demam).
6. Anjurkan ibu untuk datang kembali pada tanggal 06 Desember 2010 atau bila ada keluhan.



BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Nifas atau puerperium adalah periode waktu atau masa dimana organ-organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil. Masa ini membutuhkan waktu sekitar 6 minggu (Varney, Helen, 2001:225).
Tromboflebitis merupakan inflamasi permukaan pembuluh darah disertai pembentukan pembekuan darah. Tromboflebitis cenderung terjadi pada periode pasca partum pada saat kemampuan penggumpalan darah meningkat akibat peningkatan fibrinogen, dilatasi vena ekstremitas bagian bawah disebabkan oleh tekanan kepala janin kerena kehamilan dan persalinan, dan aktifitas pada periode tersebut yang menyebabkan penimbunan, statis dan membekukan darah pada ekstremitas bagian bawah (Adele Pillitteri, 2007).
B. Saran
Pengetahuan tentang kehamilan bagi masyarakat sangatlah penting, serta mencari penolong yang tepat untuk proses kelahiran. Penolong yang tepat dalam proses kelahiran akan membantu ibu dalam mengatasi gejala maupun infeksi yang mengarah ke patologi persalinan maupun patologi masa nifas.
 
DAFTAR PUSTAKA
Bari, Saifuddin Abdul dkk. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatol. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirotarjo
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC
Pillitteri, Adele. 2007. Perawatan Kesehatan Ibu Dan Anak. Jakarta : EGC
Wikhajosastro, Hanifa .2005. IlmuKebidanan . Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS
PADA NY.”N” USIA 30 TAHUN P30003 POST PARTUM 12 HARI
DENGAN TROMBOFLEBITIS FEMORALIS

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Askeb III (Nifas)
Dosen Pengampu Rheny Widi Wardani, SST












Disusun Oleh : Kelompok III









AKADEMI KEBIDANAN MUHAMMADIYAH
MADIUN
2010

Nama Anggota:
1. Ajeng Arimurti 09074106002
2. Astuti Dewanta 09074106004
3. Fitria Anggarwati 09074106016
4. Fitria Ella R. 09074106017
5. Hidayatul M. 09074106020
6. Laela Wahyu A. 09074106021
7. Nafi’ Imroatul A. 09074106028
8. Renny Winda R. 09074106034
9. Rita Siswati 09074106037
10. Seftiliana 09074106038
11. Siti Nur Fadillah 09074106039
 
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Nifas atau puerperium adalah periode waktu atau masa dimana organ-organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil. Masa ini membutuhkan waktu sekitar 6 minggu (Varney, Helen, 2001:225). Dari definisi lain menyebutkan, Masa nifas atau masa puerperium mulai setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu (Wiknjosastro, Hanifa,1999:237).
Infeksi nifas adalah keadaan yang mencakup semua peradangan alat-alat genitalia dalam masa nifas. (Adele Pillitteri, 2007). Salah satu infeksi pada masa nifas adalah : Tromboflebitis merupakan inflamasi permukaan pembuluh darah disertai pembentukan pembekuan darah. Tromboflebitis cenderung terjadi pada periode pasca partum pada saat kemampuan penggumpalan darah meningkat akibat peningkatan fibrinogen, dilatasi vena ekstremitas bagian bawah disebabkan oleh tekanan kepala janin kerena kehamilan dan persalinan, dan aktifitas pada periode tersebut yang menyebabkan penimbunan, statis dan membekukan darah pada ekstremitas bagian bawah (Adele Pillitteri, 2007).
Perlu dibutuhkan pemantauan khusus terhadap ibu nifas yang mengalami keluhan-keluhan yang diperkirakan akan mengarah ke gejala patologis masa nifas.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
a. Memahami Apa yang dimaksud dengan nifas dan infeksi yang mungkin timbul.
b. Memahami klasifikasi Tromboflebitis.
 
2. Tujuan Khusus
a. Pentingnya penangganan yang baik pada masa nifas.
b. Ibu mampu mendeteksi secara dini penyakit atau infeksi yang mungkin timbul setelah persalinan.
C. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
a. Meningkatkan pengetahuan tentang asuhan kebidanan masa nifas.
b. Menerapkan pengetahuan yang diperoleh dan menerapkanya dalam asuhan sesungguhnya di lapangan.
2. Bagi Masyarakat
Mengetahuai apa yang dimaksud tromboflebitis femoralis, dan hendaknya kerjasama dengan petugas kesehatan.
3. Bagi Instusi
Memberikan tambahan referensi serta bahan acuan dalam penyusunan asuhan kebidanan pada masa nifaskhusunya tromboflebitis femoralis.
 
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengertian
Tromboflebitis merupakan inflamasi permukaan pembuluh darah disertai pembentukan pembekuan darah. Tromboflebitis cenderung terjadi pada periode pasca partum pada saat kemampuan penggumpalan darah meningkat akibat peningkatan fibrinogen, dilatasi vena ekstremitas bagian bawah disebabkan oleh tekanan kepala janin kerena kehamilan dan persalinan, dan aktifitas pada periode tersebut yang menyebabkan penimbunan, statis dan membekukan darah pada ekstremitas bagian bawah (Adele Pillitteri, 2007).
Tromboflebitis adalah perluasan atau invasi mikroorganisme patogen yang mengikuti aliran darah di sepanjang vena dan cabang-cabangnya (Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal, 2002).
B. Klasifikasi
Tromboflebitis dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Pelvio tromboflebitis
Pelvio tromboflebitis mengenai vena-vena dinding uterus dan ligamentum latum, yaitu vena ovarika, vena uterina dan vena hipograstika. Vena yang paling sering terkena ialah vena overika dekstra karena infeksi pada tempat implantasi plasenta terletak dibagian atas uterus, proses biasanya unilateral. Perluasan infeksi dari vena ovarika dekstra, mengalami inflamasi dan akan menyebabkan perisalpingo-ooforitis dan peridiapendisitis. Perluasan infeksi dari vena uterna ialah ke vena iliaka komunis. Biasanya terjadi sekitar hari ke-14 atau ke-15 pasca partum.
2. Tromboflebitis femoralis
Tromboflebitis femoralis mengenai vena-vena pada tungkai, misalnya vena vemarolis, vena poplitea dan vena safena. Sering terjadi sekitar hari ke-10 pasca partum (Abdul Bari SAifudin, dkk., 2002).

C. Penyebab
1. Perluasan infeksi endometrium
2. Mempunyai varises pada vena
3. Obesitas
4. Pernah mengalami tramboflebitis
5. Berusia 30 tahun lebih dan pada saat persalinan berada pada posisi stir up untuk waktu yang lama
6. Memiliki insidens tinggi untuk mengalami tromboflebitis dalam keluarga. (Adele Pillitteri, 2007)

D. Tanda dan Gejala
1. Pelvio Tromboflebitis
Nyeri yang terdapat pada perut bagian bawah dan atau perut bagian samping, timbul pada hari ke-2-3 masa nifas dengan atau tanpa panas.
2. Penderita tampak sakit berat dengan gambaran karakteristik sebagai berikut:
a. Menggigil berulang kali, menggigil terjadi sangat berat (30-40 menit) dengan interval hanya beberapa jam saja dan kadang-kadang 3 hari pada waktu menggigil penderita hampir tidak panas.
b. Suhu badan naik turun secara tajam (36 oC menjadi 40 oC) yang diikuti penurunan suhu dalam 1 jam (biasanya subfebris seperti pada endometritis)
c. Penyaklit dapat langsung selama 1-3 bulan
d. Cenderung terbentuk pus, yang menjalar kemana-mana, terutama ke paru-paru
3. Gambaran darah
a. Terdapat leukositosis (meskipun setelah endotoksin menyebar kesirkulasi, dapat segera terjadi leukopenia)
b. Untuk membuat kultur darah, darah diambil pada saat tepat sebelum mulainya menggigil, kultur darah sangat sukar dibuat karena bakterinya adalah anaerob.
c. Pada periksa dalam hampir tidak diketemukan apa-apa karena yang paling banyak terkena adalah vena ovarika; yang sukar dicapai dalam pemeriksaan dalam.
4. Tromboflebitis femoralis
a. Keadaan umum tetap baik, suhu badan subfebris selama 7-10 hari, kemudian suhu mendadak naik kira-kira pada hari ke-10-20 yang disertai dengan menggigil dan nyeri sekali.
b. Pada salah satu kaki yang terkena, biasanya kaki kiri akan memberikan tanda-tanda sebagai berikut:
1) Kaki sedikit dalam keadaan fleksi dan rotasi keluar serta sukar bergerak, lebih panas dibandingkan dengan kaki lainnya.
2) Seluruh bagian dari salah satu vena pada kaki terasa tegang dan keras pada paha bagian atas
3) Nyeri hebat pada lipat paha dan daerah paha
4) Reflektorik akan terjadi spasmus arteria sehingga kaki menjadi bengkak, tegang, putih, nyeri, dan dingin dan pulsasi menurun.
5) Kadang-kadang terjadi sebelum atau sesudah nyeri dan pada umumnya terdapat pada paha bagian atas, teatapi lebih sering dimulai dari jari-jari kaki dan pergelangan kaki kemudian melus dari bawah ke atas.
6) Nyeri pada betis, yang terjadi spontan atau dengan memijat betis atau dengan meregangkan tendo akhiles(tanda homan positif)
E. Penatalaksanaan
1. Pelvio Tromboflebitis
a. Lakukan pencegahan terhadap endometritis dan tromboflebitis dengan menggunakan teknik aseptik yang baik
b. Rawat inap : penderita tirah baring untuk pemantauan gejala penyakit dan mencegah terjadinya emboli pulmonum
c. Terapi medik: pemberian antibiotika, heparin terdapat tanda-tanda atau dugaan adanya emboli pulmonum
d. Terapi operatif : pengikatan vena kava inferior dan vena ovarika jika emboli septik terus berlangsung sampai mencapai paru-paru; meskipun sedang dilakukan hipernisasi, siapkan untuk menjalani pembedahan.
2. Tromboflebitis Femoralis
a. Anjurkan ambulasi dini untuk meningkatkan sirkulasi pada ekstremitas bawah dan menurunkan kemungkinan pembentukan pembekuan darah.
b. Pastikan klien untuk tidak berada pada posisi litotomi dan menggantung kaki lebih dari 1 jam, dan pastikan untuk memberikan alas pada penyokong kaki guna mencegah adanya tekanan yaang kuat pada betis.
c. Sediakan stocking pendukung kepada klien pasca patrum yang memiliki varises vena untuk meningkatkan sirkulasi vena dan membantu mencegah kondisi stasis.
d. Instruksikan kepada klien untuk memakai stocking pendukung sebelum bangun pagi dan melepaskannya 2x sehari untuk mengkaji keadaan kulit dibawahnya.
e. Anjurkan tirah baring dan mengangkat bagian kaki yang terkena.
f. Dapatkan nilai pembekuan darah perhari sebelum obat anti koagulan diberikan.
g. Berikan anti koagulan, analgesik, dan anti biotik sesuai dengan resep.
h. Berikan alat pamanas seperti lampu. Atau kompres hangat basah sesuai instruksi, pastikan bahwa berat dari kompres panas tersebut tidak menekan kaki klien sehingga aliran darah tidak terhambat.
i. Sediakan bed cradle untuk mencegah selimut menekan kaki yang terkena.
j. Ukur diameter kaki pada bagian paha dan betis dan kemudian bandingkan pengukuran tersebut dalam beberapa hari kemudian untuk melihat adanya peningkatan atau penurunan ukuran.
k. Dapatkan laporan mengenai lokea dan timbang berat pembalut perineal untuk mengkaji pendarahan jika klien dalam terapi antikoagulan.
l. Kaji adanya kemungkinan tanda pendarahan lain, misalnya: pendarahan pada gusi, bercak ekimosis, pada kulit atau darah yang keluar dari jahitan episiotomi.
m. Yakinkan klien bahwa heparin yang diterimanya dapat dilanjutkan pada masa menyusui karena obat ini tidak akan berada didalam air susu.
n. Siapkan pemberian protamin sulfat sebagai antagonis heparin.
o. Jelaskan pada klien mengenai pemberian heparin yang harus dilakukan melalui terapi sub kutan
p. Jelaskan kepada klien bahwa untuk kehamilan selanjutnya ia harus memberitahukan tenaga kesehatan yang dia hadapi untuk memastikan bahwa pencegahan trombofrebitis yang tepat telah dlakukan.
(Adele Pillitteri, 2007)











 
BAB III
TINJAUAN KASUS

Tanggal : 3 Desember 2010 Waktu : 08.30 WIB
Tempat : BPS Permata Bunda

I. PENGKAJIAN DATA
A. Data Subyektif
1. Identitas
Nama Pasien : Ny.”N” Nama Suami : Tn.”Y”
Umur : 30 Tahun Umur : 31 Tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Suku/ Bangsa : Jawa/ Indonesia Suku/ Bangsa : Jawa/ Indonesia
Pendidikan : SD Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Petani Pekerjaan : Petani
Penghasilan : ± Rp 300.000,- Penghasilan : ± Rp 500.000,-
2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan, nyeri hebat pada daerah paha dan kaki sebelah kiri sulit di gerakkan, badan terasa panas disertai menggigil.
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
Ibu mengatakan saat ini tidak sedang menderita penyakit menurun dengan gejala sering makan, sering minum, sering kencing (DM), nyeri pada ulu hati (Hipertensi), menahun seperti jantung berdebar-debar (jantung), menular seperti batuk tidak sembuh-sembuh (TBC).
b. Riwayat kesehatan yang lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menurun dengan gejala sering makan, sering minum, sering kencing (DM), nyeri pada ulu hati (Hipertensi), menahun seperti jantung berdebar-debar (jantung), menular seperti batuk tidak sembuh-sembuh (TBC).
c. Riwayat kesehatan keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit menurun dengan gejala sering makan, sering minum, sering kencing (DM), nyeri pada ulu hati (Hipertensi), menahun seperti jantung berdebar-debar (jantung), menular seperti batuk tidak sembuh-sembuh selama 2 minggu dan berdarah (TBC), kencing seperti teh (Hepatitis).Dalam keluarga tidak ada yang mempunyai riwayat keturunan kembar baik dari ibu maupun suami.
4. Data Kebidanan
a. Riwayat menstruasi
Menarche : Umur 14 tahun
Siklus : 28 hari, teratur
Lamanya : 7 hari
Keluhan : -
Jenis : Cair kadang bergumpal
Warna : Merah segar
Bau : Anyir
HPHT : 14 Februari 2010
HPL : 21 November 2010
b. Status perkawinan
Pasien Suami
Umur kawin : 23 Tahun Umur kawin: 28 Tahun
Lama kawin : 7 Tahun Lama kawin: 7 Tahun
Perkawinan ke : 1 Perkawinan ke : 1

c. Riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu:
No Kehamilan Umur
Kehamilan Jenis
Partus Tempat
Partus Penolong Penyulit
1 Pertama Aterm Normal Rumah Dukun Tidak Ada
2 Kedua Aterm Normal Rumah Dukun Tidak Ada

d. Riwayat nifas dan anak yang lalu:
Anak Nifas
No Jenis
Kelamin BB
(kg) PB
(cm) Keadaan
Anak Laktasi
(bulan) Perdarahan Nifas
(hari) Ket
1 Perempuan 2,9 49 Sehat 6 Normal - -
2 Perempuan 2,8 50 Sehat 6 Normal - -
e. Riwayat kehamilan dan persalinan sekarang
Ibu mengatakan pada kehamilan anak ketiga ini, ibu tidak pernah memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan atau bidan. Pada tanggal 21 November 2010 pukul 04.00 WIB telah melahirkan anak ketiganya berjenis kelamin Laki-Laki, cukup bulan, BB: 3000 gram, PB: 51 cm, lahir normal, bayi menangis spontan dan dibantu oleh dukun.
f. Riwayat keluarga berencana
Jenis KB yang digunakan : -
Efek samping : -
Lamanya KB : -
Alasan berhenti : -
5. Pola Kebiasaan Sehari-hari
a. Nutrisi
Sebelum melahirkan : Ibu makan 3 kali/hari, dengan porsi satu piring nasi, sayur ½ mangkok, lauk 1 potong tempe1 potong tahu kadang ikan, kadang makan buah. Ibu minum air putih 8-12 gelas /hari dan minum susu 2 gelas / hari.
Sesudah melahirkan : Ibu mengatakan tidak begitu nafsu makan, makan 2 kali/hari dengan porsi 1 piring nasi, sayur ½ mangkok, lauk 1 potong tempe kadang ikan atau telur, kadang makan buah. Ibu banyak minum air putih 12-14 gelas/hari. Dan minum susu 2 gelas/hari
b. Eliminasi
Sebelum melahirkan : BAB : 1 kali/hari konsistensi lunak.
BAK : 4-5 kali/hari, warna kuning jernih, bau khas.
Sesudah melahirkan :BAB : 1 kali/hari, konsistensi lunak
BAK : 3-4 kali/hari, warna kuning jernih, bau khas.
c. Istirahat
Sebelum melahirkan : Ibu mengatakan tidur malam 7-8 jam/hari, tidur siang 1 jam.
Sesudah melahirkan : Ibu mengatakan sulit tidur karena nyeri pada betisnya, sehingga hanya tidur malam 5-6 jam, dan tidak tidur siang.
d. Personal Hygiene
Sebelum melahirkan : Ibu mandi 2 kali/hari, ganti pakaian 2 kali/hari, ganti celana dalam 2 kali/hari atau ganti kalau merasa lembab, keramas 2 kali/minggu, cuci tangan sesudah BAK dan BAB, cuci tangan sebelum dan sesudah makan.
Sesudah melahirkan : Ibu mandi 2 kali/hari, ganti pakaian 2kali/hari, ganti celana dalam 3-4 kali/sehari, keramas 2 kali/minggu, ganti pembalut 3 kali/hari atau kalau merasa penuh, cuci tangan sesudah BAK dan BAB, cuci tangan sebelum dan sesudah makan.
e. Seksual
Sebelum melahirkan : 1x seminggu, karena perut membesar ibu merasa kurang nyaman untuk melakukan hubungan seksual.
Setelah melahirkan : Ibu tidak melakukan hubungan seksual karena masih mengeluarkan darah dan merasakan sakit pada pahanya.
f. Pola Ketergantungan
Ibu mengatakan tidak pernah merokok, dan mengkonsumsi jamu kunir asam.
6. Data Psikososial dan Agama
Ibu mengatakan hubungan ibu dengan keluarga baik, hubungan ibu dengan masyarakat juga baik, ibu melaksanakan ibadah sholat 5 waktu dan mengikuti pengajian 1x dalam seminggu.

B. DATA OBYEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
a. Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
BB sekarang : 56 kg
BB sebelumnya : -
TB : 157 cm
LILA : 25 cm
b. Tanda-tanda vital
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 88x /menit
Suhu : 38 oC
Rr : 22x /menit
2. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala : Simetris, tidak ada benjolan.
Rambut : Bersih, tidak rontok, tidak ada ketombe, warna rambut hitam, penyebaran merata.
Muka : Pucat, tidak tampak oedema, tidak sembab, tidak pada muka terdapat cloasma gravidarum.
Mata : Simetris, sklera putih, konjungtiva palpebra merah muda.
Hidung : Simetris, bersih, tidak ada polip, tidak ada secret.
Telinga : Bersih, simetris, tidak ada serumen.
Gigi dan Mulut : Bersih, tidak ada karies gigi, gusi tidak berdarah, bibir pucat, tidak ada stomatitis.
b. Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, kelenjar limfe, dan pembesaran vena jugularis.
c. Dada : Simetris, pernafasan teratur.
d. Payudara : Pembesaran payudara, hiperpigmentasi mammae dan papila, putting susu menonjol, colostrum sudah keluar dan mengeluarkan ASI.
e. Axila : Tidak ada pembesaran kelenjar limfe.
f. Abdomen : Bersih, fundus tidak teraba, tidak ada luka bekas operasi, terdapat striae albican.
g. Genetalia : Bersih, tidak ada jaringan parut, mengeluarkan cairan kekuningan, tidak berbau, vulva kebiruan, tidak ada varises, tidak ada condiloma acuminata (bintil-bintil cairan) maupun condiloma matalata (jengger ayam).
h. Anus : Bersih, Tidak ada haemorhoid.


i. Ekstermitas :
Atas : Simetris, tidak ada kelainan fungsi anatomi, gerak bebas.
Bawah : Ada oedema, kaki kiri bengkak dan kemerahan, nyeri pada betis, jari-jari lengkap, kaki kiri sulit digerakkan, simetris kanan-kiri.
3. Pemeriksaan Penunjang
Hb : 11 gr%

II. INTERPRETASI DATA
Dx : Ny.”N” usia 30 tahun P30003 post partum 12 hari dengan tromboflebitis femoralis.
Ds : Ibu mengeluh, nyeri hebat pada daerah paha dan kaki sebelah kiri sulit di gerakkan, badan terasa panas disertai menggigil.
Do : Keadaan umum baik
Kontraksi uterus baik
Lochea serosa normal
TTV
TD : 120/80 mmHg Suhu : 38°C
Nadi : 88x /menit Rr : 22x /menit

III. DIAGNOSA MASALAH POTENSIAL DAN ANTISIPASI
Tidak ada

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN AKAN TINDAKAN SEGERA ATAU KOLABORASI
Tidak ada



V. MERENCANAKAN ASUHAN YANG MENYELURUH
1. Jelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu.
R/ ibu lebih kooperatif dengan tindakan petugas.
2. Jelaskan kepada ibu penyebab rasa nyeri hebat pada daerah paha dan kaki serta cara mengatasinya.
R/ ibu mengetahui penyebab dan cara mengatasi nyeri hebat pada daerah paha dan kaki yaitu merupakan proses yang fisiologis pada masa nifas.
3. Jelaskan pada ibu tentang kebutuhan dasar nifas.
R/ ibu mengetahui kebutuhan dasarnya dan dapat memenuhinya.
4. Pemberian vitamin A, vitamin C, dan tablet Fe.
R/ untuk memperlancar asi dan mencegah anemia.
5. Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi nutrisi secara adekuat.
R/ kebutuhan ibu dapat terpenuhi sehingga produksi ASI lancar
6. Jelaskan kepada ibu mengenai KB.
R/ ibu mengetahui alat kontrasebsi yang baik buat ibu.
6. Jelaskan kapada ibu tentang perawatan bayi.
R/ ibu mengetahui tentang cara merawat bayi yang benar.

VI. IMPLEMENTASI
1. Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu bahwa keadaan ibu baik.
2. Menjelaskan kepada ibu penyebab rasa nyeri hebat pada daerah paha
dan kaki, merupakan inflamasi permukaan pembuluh darah disertai pembentukan pembekuan darah. Tromboflebitis cenderung terjadi pada periode pasca partum pada saat kemampuan penggumpalan darah meningkat akibat peningkatan fibrinogen dan dilatasi vena ekstremitas bagian bawah yang disebabkan oleh tekanan kepala janin karena kehamilan dan persalinan, dan aktifitas pada periode tersebut yang menyebabkan penimbunan, statis dan membekukan darah pada ekstremitas bagian bawah.
Cara mengatasi:
a. Tirah baring dan mengangkat bagian kaki yang terasa nyeri.
b. Mengompres kaki yang nyeri dengan air hangat
3. Jelaskan pada ibu tentang kebutuhan dasar nifas meliputi:
a) Personal hygiene,
b) Istirahat,
c) Eliminasi,
d) Hubungan seksual, dan
e) Perawatan payudara
4. Memberikan vitamin A, vitamin C, dan tablet Fe kepada ibu.
5. Menganjurkan ibu untuk mengonsumsi nutrisi secara adekuat.

VII. EVALUASI
S : Ibu mengatakan sudah mengerti tentang informasi dan penjelasan dari petugas kesehatan, ditandai dengan ibu dapat mejelaskan kembali sebagian dari informasi tersebut.
O :
Keadaan Umum : baik
Kesadaran : composmentis
TTV
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 88x /menit
Suhu : 38 oC
Rr : 22x /menit
A : Ny.”N” usia 30 tahun P30003 post partum 12 hari dengan tromboflebitis femoralis
P :
1. Menganjurkan pada ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi untuk ibu nifas.
2. Menganjurkan ibu untuk melibatkan keluarga dalam kegiatan-kegiatan ibu.
3. Menganjurkan ibu untuk melakukan perawatan payudara
4. Memberi terapi amoksilin 500 mg 3x1
5. vitamin C 15 mg 3x1, B Comp 10 mg 3x1, Parasetamol 500 mg (bila demam).
6. Anjurkan ibu untuk datang kembali pada tanggal 06 Desember 2010 atau bila ada keluhan.



BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Nifas atau puerperium adalah periode waktu atau masa dimana organ-organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil. Masa ini membutuhkan waktu sekitar 6 minggu (Varney, Helen, 2001:225).
Tromboflebitis merupakan inflamasi permukaan pembuluh darah disertai pembentukan pembekuan darah. Tromboflebitis cenderung terjadi pada periode pasca partum pada saat kemampuan penggumpalan darah meningkat akibat peningkatan fibrinogen, dilatasi vena ekstremitas bagian bawah disebabkan oleh tekanan kepala janin kerena kehamilan dan persalinan, dan aktifitas pada periode tersebut yang menyebabkan penimbunan, statis dan membekukan darah pada ekstremitas bagian bawah (Adele Pillitteri, 2007).
B. Saran
Pengetahuan tentang kehamilan bagi masyarakat sangatlah penting, serta mencari penolong yang tepat untuk proses kelahiran. Penolong yang tepat dalam proses kelahiran akan membantu ibu dalam mengatasi gejala maupun infeksi yang mengarah ke patologi persalinan maupun patologi masa nifas.
 
DAFTAR PUSTAKA
Bari, Saifuddin Abdul dkk. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatol. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirotarjo
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC
Pillitteri, Adele. 2007. Perawatan Kesehatan Ibu Dan Anak. Jakarta : EGC
Wikhajosastro, Hanifa .2005. IlmuKebidanan . Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.




Asuhan Kebidanan Post Natal

ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS
PADA NY.”N” USIA 30 TAHUN P30003 POST PARTUM 12 HARI
DENGAN TROMBOFLEBITIS FEMORALIS

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Askeb III (Nifas)
Dosen Pengampu Rheny Widi Wardani, SST












Disusun Oleh : Kelompok III









AKADEMI KEBIDANAN MUHAMMADIYAH
MADIUN
2010

Nama Anggota:
1. Ajeng Arimurti 09074106002
2. Astuti Dewanta 09074106004
3. Fitria Anggarwati 09074106016
4. Fitria Ella R. 09074106017
5. Hidayatul M. 09074106020
6. Laela Wahyu A. 09074106021
7. Nafi’ Imroatul A. 09074106028
8. Renny Winda R. 09074106034
9. Rita Siswati 09074106037
10. Seftiliana 09074106038
11. Siti Nur Fadillah 09074106039
 
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Nifas atau puerperium adalah periode waktu atau masa dimana organ-organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil. Masa ini membutuhkan waktu sekitar 6 minggu (Varney, Helen, 2001:225). Dari definisi lain menyebutkan, Masa nifas atau masa puerperium mulai setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu (Wiknjosastro, Hanifa,1999:237).
Infeksi nifas adalah keadaan yang mencakup semua peradangan alat-alat genitalia dalam masa nifas. (Adele Pillitteri, 2007). Salah satu infeksi pada masa nifas adalah : Tromboflebitis merupakan inflamasi permukaan pembuluh darah disertai pembentukan pembekuan darah. Tromboflebitis cenderung terjadi pada periode pasca partum pada saat kemampuan penggumpalan darah meningkat akibat peningkatan fibrinogen, dilatasi vena ekstremitas bagian bawah disebabkan oleh tekanan kepala janin kerena kehamilan dan persalinan, dan aktifitas pada periode tersebut yang menyebabkan penimbunan, statis dan membekukan darah pada ekstremitas bagian bawah (Adele Pillitteri, 2007).
Perlu dibutuhkan pemantauan khusus terhadap ibu nifas yang mengalami keluhan-keluhan yang diperkirakan akan mengarah ke gejala patologis masa nifas.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
a. Memahami Apa yang dimaksud dengan nifas dan infeksi yang mungkin timbul.
b. Memahami klasifikasi Tromboflebitis.
 
2. Tujuan Khusus
a. Pentingnya penangganan yang baik pada masa nifas.
b. Ibu mampu mendeteksi secara dini penyakit atau infeksi yang mungkin timbul setelah persalinan.
C. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
a. Meningkatkan pengetahuan tentang asuhan kebidanan masa nifas.
b. Menerapkan pengetahuan yang diperoleh dan menerapkanya dalam asuhan sesungguhnya di lapangan.
2. Bagi Masyarakat
Mengetahuai apa yang dimaksud tromboflebitis femoralis, dan hendaknya kerjasama dengan petugas kesehatan.
3. Bagi Instusi
Memberikan tambahan referensi serta bahan acuan dalam penyusunan asuhan kebidanan pada masa nifaskhusunya tromboflebitis femoralis.
 
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengertian
Tromboflebitis merupakan inflamasi permukaan pembuluh darah disertai pembentukan pembekuan darah. Tromboflebitis cenderung terjadi pada periode pasca partum pada saat kemampuan penggumpalan darah meningkat akibat peningkatan fibrinogen, dilatasi vena ekstremitas bagian bawah disebabkan oleh tekanan kepala janin kerena kehamilan dan persalinan, dan aktifitas pada periode tersebut yang menyebabkan penimbunan, statis dan membekukan darah pada ekstremitas bagian bawah (Adele Pillitteri, 2007).
Tromboflebitis adalah perluasan atau invasi mikroorganisme patogen yang mengikuti aliran darah di sepanjang vena dan cabang-cabangnya (Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal, 2002).
B. Klasifikasi
Tromboflebitis dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Pelvio tromboflebitis
Pelvio tromboflebitis mengenai vena-vena dinding uterus dan ligamentum latum, yaitu vena ovarika, vena uterina dan vena hipograstika. Vena yang paling sering terkena ialah vena overika dekstra karena infeksi pada tempat implantasi plasenta terletak dibagian atas uterus, proses biasanya unilateral. Perluasan infeksi dari vena ovarika dekstra, mengalami inflamasi dan akan menyebabkan perisalpingo-ooforitis dan peridiapendisitis. Perluasan infeksi dari vena uterna ialah ke vena iliaka komunis. Biasanya terjadi sekitar hari ke-14 atau ke-15 pasca partum.
2. Tromboflebitis femoralis
Tromboflebitis femoralis mengenai vena-vena pada tungkai, misalnya vena vemarolis, vena poplitea dan vena safena. Sering terjadi sekitar hari ke-10 pasca partum (Abdul Bari SAifudin, dkk., 2002).

C. Penyebab
1. Perluasan infeksi endometrium
2. Mempunyai varises pada vena
3. Obesitas
4. Pernah mengalami tramboflebitis
5. Berusia 30 tahun lebih dan pada saat persalinan berada pada posisi stir up untuk waktu yang lama
6. Memiliki insidens tinggi untuk mengalami tromboflebitis dalam keluarga. (Adele Pillitteri, 2007)

D. Tanda dan Gejala
1. Pelvio Tromboflebitis
Nyeri yang terdapat pada perut bagian bawah dan atau perut bagian samping, timbul pada hari ke-2-3 masa nifas dengan atau tanpa panas.
2. Penderita tampak sakit berat dengan gambaran karakteristik sebagai berikut:
a. Menggigil berulang kali, menggigil terjadi sangat berat (30-40 menit) dengan interval hanya beberapa jam saja dan kadang-kadang 3 hari pada waktu menggigil penderita hampir tidak panas.
b. Suhu badan naik turun secara tajam (36 oC menjadi 40 oC) yang diikuti penurunan suhu dalam 1 jam (biasanya subfebris seperti pada endometritis)
c. Penyaklit dapat langsung selama 1-3 bulan
d. Cenderung terbentuk pus, yang menjalar kemana-mana, terutama ke paru-paru
3. Gambaran darah
a. Terdapat leukositosis (meskipun setelah endotoksin menyebar kesirkulasi, dapat segera terjadi leukopenia)
b. Untuk membuat kultur darah, darah diambil pada saat tepat sebelum mulainya menggigil, kultur darah sangat sukar dibuat karena bakterinya adalah anaerob.
c. Pada periksa dalam hampir tidak diketemukan apa-apa karena yang paling banyak terkena adalah vena ovarika; yang sukar dicapai dalam pemeriksaan dalam.
4. Tromboflebitis femoralis
a. Keadaan umum tetap baik, suhu badan subfebris selama 7-10 hari, kemudian suhu mendadak naik kira-kira pada hari ke-10-20 yang disertai dengan menggigil dan nyeri sekali.
b. Pada salah satu kaki yang terkena, biasanya kaki kiri akan memberikan tanda-tanda sebagai berikut:
1) Kaki sedikit dalam keadaan fleksi dan rotasi keluar serta sukar bergerak, lebih panas dibandingkan dengan kaki lainnya.
2) Seluruh bagian dari salah satu vena pada kaki terasa tegang dan keras pada paha bagian atas
3) Nyeri hebat pada lipat paha dan daerah paha
4) Reflektorik akan terjadi spasmus arteria sehingga kaki menjadi bengkak, tegang, putih, nyeri, dan dingin dan pulsasi menurun.
5) Kadang-kadang terjadi sebelum atau sesudah nyeri dan pada umumnya terdapat pada paha bagian atas, teatapi lebih sering dimulai dari jari-jari kaki dan pergelangan kaki kemudian melus dari bawah ke atas.
6) Nyeri pada betis, yang terjadi spontan atau dengan memijat betis atau dengan meregangkan tendo akhiles(tanda homan positif)
E. Penatalaksanaan
1. Pelvio Tromboflebitis
a. Lakukan pencegahan terhadap endometritis dan tromboflebitis dengan menggunakan teknik aseptik yang baik
b. Rawat inap : penderita tirah baring untuk pemantauan gejala penyakit dan mencegah terjadinya emboli pulmonum
c. Terapi medik: pemberian antibiotika, heparin terdapat tanda-tanda atau dugaan adanya emboli pulmonum
d. Terapi operatif : pengikatan vena kava inferior dan vena ovarika jika emboli septik terus berlangsung sampai mencapai paru-paru; meskipun sedang dilakukan hipernisasi, siapkan untuk menjalani pembedahan.
2. Tromboflebitis Femoralis
a. Anjurkan ambulasi dini untuk meningkatkan sirkulasi pada ekstremitas bawah dan menurunkan kemungkinan pembentukan pembekuan darah.
b. Pastikan klien untuk tidak berada pada posisi litotomi dan menggantung kaki lebih dari 1 jam, dan pastikan untuk memberikan alas pada penyokong kaki guna mencegah adanya tekanan yaang kuat pada betis.
c. Sediakan stocking pendukung kepada klien pasca patrum yang memiliki varises vena untuk meningkatkan sirkulasi vena dan membantu mencegah kondisi stasis.
d. Instruksikan kepada klien untuk memakai stocking pendukung sebelum bangun pagi dan melepaskannya 2x sehari untuk mengkaji keadaan kulit dibawahnya.
e. Anjurkan tirah baring dan mengangkat bagian kaki yang terkena.
f. Dapatkan nilai pembekuan darah perhari sebelum obat anti koagulan diberikan.
g. Berikan anti koagulan, analgesik, dan anti biotik sesuai dengan resep.
h. Berikan alat pamanas seperti lampu. Atau kompres hangat basah sesuai instruksi, pastikan bahwa berat dari kompres panas tersebut tidak menekan kaki klien sehingga aliran darah tidak terhambat.
i. Sediakan bed cradle untuk mencegah selimut menekan kaki yang terkena.
j. Ukur diameter kaki pada bagian paha dan betis dan kemudian bandingkan pengukuran tersebut dalam beberapa hari kemudian untuk melihat adanya peningkatan atau penurunan ukuran.
k. Dapatkan laporan mengenai lokea dan timbang berat pembalut perineal untuk mengkaji pendarahan jika klien dalam terapi antikoagulan.
l. Kaji adanya kemungkinan tanda pendarahan lain, misalnya: pendarahan pada gusi, bercak ekimosis, pada kulit atau darah yang keluar dari jahitan episiotomi.
m. Yakinkan klien bahwa heparin yang diterimanya dapat dilanjutkan pada masa menyusui karena obat ini tidak akan berada didalam air susu.
n. Siapkan pemberian protamin sulfat sebagai antagonis heparin.
o. Jelaskan pada klien mengenai pemberian heparin yang harus dilakukan melalui terapi sub kutan
p. Jelaskan kepada klien bahwa untuk kehamilan selanjutnya ia harus memberitahukan tenaga kesehatan yang dia hadapi untuk memastikan bahwa pencegahan trombofrebitis yang tepat telah dlakukan.
(Adele Pillitteri, 2007)











 
BAB III
TINJAUAN KASUS

Tanggal : 3 Desember 2010 Waktu : 08.30 WIB
Tempat : BPS Permata Bunda

I. PENGKAJIAN DATA
A. Data Subyektif
1. Identitas
Nama Pasien : Ny.”N” Nama Suami : Tn.”Y”
Umur : 30 Tahun Umur : 31 Tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Suku/ Bangsa : Jawa/ Indonesia Suku/ Bangsa : Jawa/ Indonesia
Pendidikan : SD Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Petani Pekerjaan : Petani
Penghasilan : ± Rp 300.000,- Penghasilan : ± Rp 500.000,-
2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan, nyeri hebat pada daerah paha dan kaki sebelah kiri sulit di gerakkan, badan terasa panas disertai menggigil.
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
Ibu mengatakan saat ini tidak sedang menderita penyakit menurun dengan gejala sering makan, sering minum, sering kencing (DM), nyeri pada ulu hati (Hipertensi), menahun seperti jantung berdebar-debar (jantung), menular seperti batuk tidak sembuh-sembuh (TBC).
b. Riwayat kesehatan yang lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menurun dengan gejala sering makan, sering minum, sering kencing (DM), nyeri pada ulu hati (Hipertensi), menahun seperti jantung berdebar-debar (jantung), menular seperti batuk tidak sembuh-sembuh (TBC).
c. Riwayat kesehatan keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit menurun dengan gejala sering makan, sering minum, sering kencing (DM), nyeri pada ulu hati (Hipertensi), menahun seperti jantung berdebar-debar (jantung), menular seperti batuk tidak sembuh-sembuh selama 2 minggu dan berdarah (TBC), kencing seperti teh (Hepatitis).Dalam keluarga tidak ada yang mempunyai riwayat keturunan kembar baik dari ibu maupun suami.
4. Data Kebidanan
a. Riwayat menstruasi
Menarche : Umur 14 tahun
Siklus : 28 hari, teratur
Lamanya : 7 hari
Keluhan : -
Jenis : Cair kadang bergumpal
Warna : Merah segar
Bau : Anyir
HPHT : 14 Februari 2010
HPL : 21 November 2010
b. Status perkawinan
Pasien Suami
Umur kawin : 23 Tahun Umur kawin: 28 Tahun
Lama kawin : 7 Tahun Lama kawin: 7 Tahun
Perkawinan ke : 1 Perkawinan ke : 1

c. Riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu:
No Kehamilan Umur
Kehamilan Jenis
Partus Tempat
Partus Penolong Penyulit
1 Pertama Aterm Normal Rumah Dukun Tidak Ada
2 Kedua Aterm Normal Rumah Dukun Tidak Ada

d. Riwayat nifas dan anak yang lalu:
Anak Nifas
No Jenis
Kelamin BB
(kg) PB
(cm) Keadaan
Anak Laktasi
(bulan) Perdarahan Nifas
(hari) Ket
1 Perempuan 2,9 49 Sehat 6 Normal - -
2 Perempuan 2,8 50 Sehat 6 Normal - -
e. Riwayat kehamilan dan persalinan sekarang
Ibu mengatakan pada kehamilan anak ketiga ini, ibu tidak pernah memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan atau bidan. Pada tanggal 21 November 2010 pukul 04.00 WIB telah melahirkan anak ketiganya berjenis kelamin Laki-Laki, cukup bulan, BB: 3000 gram, PB: 51 cm, lahir normal, bayi menangis spontan dan dibantu oleh dukun.
f. Riwayat keluarga berencana
Jenis KB yang digunakan : -
Efek samping : -
Lamanya KB : -
Alasan berhenti : -
5. Pola Kebiasaan Sehari-hari
a. Nutrisi
Sebelum melahirkan : Ibu makan 3 kali/hari, dengan porsi satu piring nasi, sayur ½ mangkok, lauk 1 potong tempe1 potong tahu kadang ikan, kadang makan buah. Ibu minum air putih 8-12 gelas /hari dan minum susu 2 gelas / hari.
Sesudah melahirkan : Ibu mengatakan tidak begitu nafsu makan, makan 2 kali/hari dengan porsi 1 piring nasi, sayur ½ mangkok, lauk 1 potong tempe kadang ikan atau telur, kadang makan buah. Ibu banyak minum air putih 12-14 gelas/hari. Dan minum susu 2 gelas/hari
b. Eliminasi
Sebelum melahirkan : BAB : 1 kali/hari konsistensi lunak.
BAK : 4-5 kali/hari, warna kuning jernih, bau khas.
Sesudah melahirkan :BAB : 1 kali/hari, konsistensi lunak
BAK : 3-4 kali/hari, warna kuning jernih, bau khas.
c. Istirahat
Sebelum melahirkan : Ibu mengatakan tidur malam 7-8 jam/hari, tidur siang 1 jam.
Sesudah melahirkan : Ibu mengatakan sulit tidur karena nyeri pada betisnya, sehingga hanya tidur malam 5-6 jam, dan tidak tidur siang.
d. Personal Hygiene
Sebelum melahirkan : Ibu mandi 2 kali/hari, ganti pakaian 2 kali/hari, ganti celana dalam 2 kali/hari atau ganti kalau merasa lembab, keramas 2 kali/minggu, cuci tangan sesudah BAK dan BAB, cuci tangan sebelum dan sesudah makan.
Sesudah melahirkan : Ibu mandi 2 kali/hari, ganti pakaian 2kali/hari, ganti celana dalam 3-4 kali/sehari, keramas 2 kali/minggu, ganti pembalut 3 kali/hari atau kalau merasa penuh, cuci tangan sesudah BAK dan BAB, cuci tangan sebelum dan sesudah makan.
e. Seksual
Sebelum melahirkan : 1x seminggu, karena perut membesar ibu merasa kurang nyaman untuk melakukan hubungan seksual.
Setelah melahirkan : Ibu tidak melakukan hubungan seksual karena masih mengeluarkan darah dan merasakan sakit pada pahanya.
f. Pola Ketergantungan
Ibu mengatakan tidak pernah merokok, dan mengkonsumsi jamu kunir asam.
6. Data Psikososial dan Agama
Ibu mengatakan hubungan ibu dengan keluarga baik, hubungan ibu dengan masyarakat juga baik, ibu melaksanakan ibadah sholat 5 waktu dan mengikuti pengajian 1x dalam seminggu.

B. DATA OBYEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
a. Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
BB sekarang : 56 kg
BB sebelumnya : -
TB : 157 cm
LILA : 25 cm
b. Tanda-tanda vital
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 88x /menit
Suhu : 38 oC
Rr : 22x /menit
2. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala : Simetris, tidak ada benjolan.
Rambut : Bersih, tidak rontok, tidak ada ketombe, warna rambut hitam, penyebaran merata.
Muka : Pucat, tidak tampak oedema, tidak sembab, tidak pada muka terdapat cloasma gravidarum.
Mata : Simetris, sklera putih, konjungtiva palpebra merah muda.
Hidung : Simetris, bersih, tidak ada polip, tidak ada secret.
Telinga : Bersih, simetris, tidak ada serumen.
Gigi dan Mulut : Bersih, tidak ada karies gigi, gusi tidak berdarah, bibir pucat, tidak ada stomatitis.
b. Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, kelenjar limfe, dan pembesaran vena jugularis.
c. Dada : Simetris, pernafasan teratur.
d. Payudara : Pembesaran payudara, hiperpigmentasi mammae dan papila, putting susu menonjol, colostrum sudah keluar dan mengeluarkan ASI.
e. Axila : Tidak ada pembesaran kelenjar limfe.
f. Abdomen : Bersih, fundus tidak teraba, tidak ada luka bekas operasi, terdapat striae albican.
g. Genetalia : Bersih, tidak ada jaringan parut, mengeluarkan cairan kekuningan, tidak berbau, vulva kebiruan, tidak ada varises, tidak ada condiloma acuminata (bintil-bintil cairan) maupun condiloma matalata (jengger ayam).
h. Anus : Bersih, Tidak ada haemorhoid.


i. Ekstermitas :
Atas : Simetris, tidak ada kelainan fungsi anatomi, gerak bebas.
Bawah : Ada oedema, kaki kiri bengkak dan kemerahan, nyeri pada betis, jari-jari lengkap, kaki kiri sulit digerakkan, simetris kanan-kiri.
3. Pemeriksaan Penunjang
Hb : 11 gr%

II. INTERPRETASI DATA
Dx : Ny.”N” usia 30 tahun P30003 post partum 12 hari dengan tromboflebitis femoralis.
Ds : Ibu mengeluh, nyeri hebat pada daerah paha dan kaki sebelah kiri sulit di gerakkan, badan terasa panas disertai menggigil.
Do : Keadaan umum baik
Kontraksi uterus baik
Lochea serosa normal
TTV
TD : 120/80 mmHg Suhu : 38°C
Nadi : 88x /menit Rr : 22x /menit

III. DIAGNOSA MASALAH POTENSIAL DAN ANTISIPASI
Tidak ada

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN AKAN TINDAKAN SEGERA ATAU KOLABORASI
Tidak ada



V. MERENCANAKAN ASUHAN YANG MENYELURUH
1. Jelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu.
R/ ibu lebih kooperatif dengan tindakan petugas.
2. Jelaskan kepada ibu penyebab rasa nyeri hebat pada daerah paha dan kaki serta cara mengatasinya.
R/ ibu mengetahui penyebab dan cara mengatasi nyeri hebat pada daerah paha dan kaki yaitu merupakan proses yang fisiologis pada masa nifas.
3. Jelaskan pada ibu tentang kebutuhan dasar nifas.
R/ ibu mengetahui kebutuhan dasarnya dan dapat memenuhinya.
4. Pemberian vitamin A, vitamin C, dan tablet Fe.
R/ untuk memperlancar asi dan mencegah anemia.
5. Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi nutrisi secara adekuat.
R/ kebutuhan ibu dapat terpenuhi sehingga produksi ASI lancar
6. Jelaskan kepada ibu mengenai KB.
R/ ibu mengetahui alat kontrasebsi yang baik buat ibu.
6. Jelaskan kapada ibu tentang perawatan bayi.
R/ ibu mengetahui tentang cara merawat bayi yang benar.

VI. IMPLEMENTASI
1. Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu bahwa keadaan ibu baik.
2. Menjelaskan kepada ibu penyebab rasa nyeri hebat pada daerah paha
dan kaki, merupakan inflamasi permukaan pembuluh darah disertai pembentukan pembekuan darah. Tromboflebitis cenderung terjadi pada periode pasca partum pada saat kemampuan penggumpalan darah meningkat akibat peningkatan fibrinogen dan dilatasi vena ekstremitas bagian bawah yang disebabkan oleh tekanan kepala janin karena kehamilan dan persalinan, dan aktifitas pada periode tersebut yang menyebabkan penimbunan, statis dan membekukan darah pada ekstremitas bagian bawah.
Cara mengatasi:
a. Tirah baring dan mengangkat bagian kaki yang terasa nyeri.
b. Mengompres kaki yang nyeri dengan air hangat
3. Jelaskan pada ibu tentang kebutuhan dasar nifas meliputi:
a) Personal hygiene,
b) Istirahat,
c) Eliminasi,
d) Hubungan seksual, dan
e) Perawatan payudara
4. Memberikan vitamin A, vitamin C, dan tablet Fe kepada ibu.
5. Menganjurkan ibu untuk mengonsumsi nutrisi secara adekuat.

VII. EVALUASI
S : Ibu mengatakan sudah mengerti tentang informasi dan penjelasan dari petugas kesehatan, ditandai dengan ibu dapat mejelaskan kembali sebagian dari informasi tersebut.
O :
Keadaan Umum : baik
Kesadaran : composmentis
TTV
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 88x /menit
Suhu : 38 oC
Rr : 22x /menit
A : Ny.”N” usia 30 tahun P30003 post partum 12 hari dengan tromboflebitis femoralis
P :
1. Menganjurkan pada ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi untuk ibu nifas.
2. Menganjurkan ibu untuk melibatkan keluarga dalam kegiatan-kegiatan ibu.
3. Menganjurkan ibu untuk melakukan perawatan payudara
4. Memberi terapi amoksilin 500 mg 3x1
5. vitamin C 15 mg 3x1, B Comp 10 mg 3x1, Parasetamol 500 mg (bila demam).
6. Anjurkan ibu untuk datang kembali pada tanggal 06 Desember 2010 atau bila ada keluhan.



BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Nifas atau puerperium adalah periode waktu atau masa dimana organ-organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil. Masa ini membutuhkan waktu sekitar 6 minggu (Varney, Helen, 2001:225).
Tromboflebitis merupakan inflamasi permukaan pembuluh darah disertai pembentukan pembekuan darah. Tromboflebitis cenderung terjadi pada periode pasca partum pada saat kemampuan penggumpalan darah meningkat akibat peningkatan fibrinogen, dilatasi vena ekstremitas bagian bawah disebabkan oleh tekanan kepala janin kerena kehamilan dan persalinan, dan aktifitas pada periode tersebut yang menyebabkan penimbunan, statis dan membekukan darah pada ekstremitas bagian bawah (Adele Pillitteri, 2007).
B. Saran
Pengetahuan tentang kehamilan bagi masyarakat sangatlah penting, serta mencari penolong yang tepat untuk proses kelahiran. Penolong yang tepat dalam proses kelahiran akan membantu ibu dalam mengatasi gejala maupun infeksi yang mengarah ke patologi persalinan maupun patologi masa nifas.
 
DAFTAR PUSTAKA
Bari, Saifuddin Abdul dkk. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatol. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirotarjo
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC
Pillitteri, Adele. 2007. Perawatan Kesehatan Ibu Dan Anak. Jakarta : EGC
Wikhajosastro, Hanifa .2005. IlmuKebidanan . Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.





Penelitian Al-Quran Dengan Sains Modern

by Lucky Arif on 11:04 AM, 22-Nov-09

"Tak ada benturan dan
pertentangan antara Islam
dengan sains," cetus Ketua
Persatuan Ulama Umat Islam
Dunia, Dr Yusuf Al-Qaradhawi,
dalam sebuah kesempatan. Alih-
alih bertentangan, para saintis
modern Barat telah
membuktikan bahwa ajaran
Islam sangat sejalan dengan ilmu
pengetahuan modern.
Alquran sebagai kitab suci dan
petunjuk hidup umat Islam yang
diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW pada 14 abad
silam, secara mengagumkan,
mengungkapkan sederet
fenomena ilmu pengetahuan
yang telah terbukti akurasi dan
kebenarannya. Hal itu berbeda
dengan Bible--ajaran Kristen
yang justru memiliki banyak
perbedaan pandangan dengan
ilmu pengetahuan.
Munculnya perbedaan
pandangan antara Bible dengan
sains memang telah
mengundang perdebatan di
kalangan penganut Kristen.
Banyaknya ketidaksesuaian
antara Bible dengan sains
diungkapkan Robert C Newman
dalam sebuah tulisannya
bertajuk Conflict between
Christianity and Science. Hal itu
kerap mengundang keraguan di
kalangan Nasrani tentang
kebenaran Bible sebagai firman
Tuhan.
Setelah melakukan berbagai
penelitian ilmiah, para saintis
Barat telah membuktikan
kebenaran janji Allah SWT
tentang isi Alquran. Dalam surah
Albaqarah ayat 2, Allah SWT
berfirman, "Kitab (Alquran) ini
tidak ada keraguan padanya,
petunjuk bagi mereka yang
bertakwa."
Prof Keith L Moore, guru besar
Departemen Anatomi dan Biologi
Sel Universitas Toronto, telah
membuktikan kebenaran firman
Allah SWT itu. "Saya tak tahu
apa-apa tentang agama, namun
saya meyakini kebenaran fakta
yang terkandung dalam Alquran
dan sunah," papar Moore yang
terkagum-kagum dengan
kandungan Alquran yang secara
akurat menjelaskan
perkembangan embrio manusia.
Berikut ini sebagian kecil fakta
penting tentang kandungan
Alquran yang sejalan dengan
temuan dunia sains modern.
Pembentukan awan
Para saintis telah mempelajari
beragam jenis awan. Selain itu,
kalangan ilmuwan juga meneliti
proses terbentuknya awan dan
bagaimana hujan terjadi. Secara
ilmiah, saintis memaparkan
proses terjadinya hujan dimulai
dari awan yang didorong angin.
Awan Cumulonimbus terbentuk
ketika angin mendorong
sejumlah awan kecil ke wilayah
awan itu bergabung hingga
kemudian terjadi hujan.
Tentang fenomena
pembentukan awan dan hujan
itu, Alquran pun menjelaskannya
secara akurat. Tidaklah kamu
melihat bahwa Allah mengarak
awan, kemudian mengumpulkan
antara (bagian-bagian)-nya,
kemudian menjadikannya
bertindih-tindih. Maka,
kelihatanlah olehmu hujan keluar
dari celah-celahnya dan Allah
(juga) menurunkan (butiran-
butiran) es dari langit, (yaitu)
dari (gumpalan-gumpalan awan,
seperti) gunung-gunung. Maka,
ditimpakan-Nya (butiran-
butiran) es itu kepada siapa
yang dikehendaki-Nya dan
dipalingkan-Nya dari siapa yang
dikehendaki-Nya. Kilauan kilat
awan itu hampir-hampir
menghilangkan penglihatan." (QS
Annur: ayat 43).
Lautan dan sungai
Ilmu pengetahuan modern telah
menemukan adanya batas di
tempat pertemuan antara dua
lautan yang berbeda. Pembatas
itu membagi dua lautan
sehingga setiap laut memiliki
temperatur, berat jenis, dan
kadar garam masing-masing.
Misalnya, laut Mediterania
memiliki air yang hangat serta
kadar garam dan berat jenisnya
lebih rendah dibandingkan
Samudra Atlantik.
Temuan sains modern itu sejalan
dengan Alquran yang telah
mengungkapkannya sejak 14
abad lampau. Dalam surah
Arrahman ayat 19-20, Allah SWT
berfirman, ''Dia membiarkan dua
lautan mengalir, yang keduanya
kemudian bertemu. Antara
keduanya, ada batas yang tidak
dilampaui oleh masing-masing.''
Perbedaan kadar garam kedua
lautan yang dipisahkan
pembatas itu juga diungkapkan
dalam surah Alfurqan ayat 53,
"Dan, Dialah yang membiarkan
dua laut mengalir
(berdampingan); yang ini tawar
lagi segar dan yang lain asin lagi
pahit; dan Dia jadikan antara
keduanya dinding dan batas
yang menghalangi." Kebenaran
ayat Alquran itulah yang
membuat para saintis Barat
berdecak kagum.
Pentingnya ASI
Dunia kesehatan modern
beberapa tahun ini mulai
menggaungkan pentingnya
pemberian Air Susu Ibu (ASI).
Anjuran itu mulai digalakkan
karena ASI memiliki banyak
keunggulan. Secara ilmiah, ASI
merupakan makanan bagi bayi
yang telah terbukti memiliki
keunggulan dibandingkan
dengan susu sapi atau susu
yang berasal dari sumber lain.
Alquran telah menyatakan
pentingnya pemberian ASI bagi
bayi dan batita sejak 14 abad
lampau.
Dalam surah Albaqarah ayat 233,
Allah SWT berfirman, "Para ibu
hendaknya menyusukan anak-
anaknya selama 2 tahun penuh.
Yaitu, bagi yang ingin
menyempurnakan
penyusuannya. Dan, kewajiban
ayah memberikan makan dan
pakaian kepada para ibu dengan
cara yang ma'ruf."
Serebrum (otak besar)
Pada surah Al 'Alaq ayat 15-16,
Allah SWT berfirman,
"Ketahuilah, sungguh jika dia
tidak berhenti (berbuat
demikian), niscaya Kami tarik
ubun-ubunnya. (Yaitu) ubun-
ubun orang mendustakan lagi
durhaka." Ubun-ubun inilah yang
disebut para saintis sebagai
serebrum (otak besar). Lalu, apa
hubungannya dengan
kebohongan dan serebrum?
Secara psikologi, otak besar ini
ternyata bertanggung jawab
untuk merencanakan,
memotivasi, dan memprakarsai
hal yang baik ataupun buruk.
Otak besar juga bertanggung
jawab atas kebohongan dan
kebenaran yang dikatakan
seseorang.
Pembentukan embrio
manusia
Alquran secara gamblang telah
menjelaskan proses
pembentukan embrio manusia.
"Dan, sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dari suatu
saripati (berasal) dari tanah.
Kemudian, Kami jadikan saripati
itu air mani (yang disimpan)
dalam tempat yang kokoh
(rahim). Kemudian, air mani itu
Kami jadikan segumpal darah.
Lalu, segumpal darah itu kami
jadikan segumpal daging dan
segumpal daging itu Kami
jadikan tulang belulang. Lalu,
tulang belulang itu Kami
bungkus daging. Kemudian,
Kami jadikan dia makhluk yang
(berbentuk) lain ...." (QS
Almu'minun: 12-14).
Fakta yang diungkapkan dalam
Alquran itu sungguh
mencengangkan para saintis
modern Barat. "Saya sungguh
sangat membahagiakan bisa
membantu mengklarifikasi
pernyataan Alquran tentang
perkembangan manusia. Jelaslah
bagi saya, pernyataan (Alquran)
itu pastilah turun kepada
Muhammad dari Tuhan," papar
Prof Keith L Moore, ilmuwan
terkemuka dalam bidang
anatomi dan embriologi.
"Sebab, hampir semua
pengetahuan itu belum
ditemukan hingga beberapa
abad kemudian. Ini
membuktikan kepada saya
bahwa Muhammad adalah
seorang Rasul utusan Tuhan,"
imbuhnya.
Kesaksian Para Saintis
tentang Alquran
* Prof E Marshall Johnson
Guru besar dan Ketua
Departemen Anatomi dan
Perkembangan Biologi
Universitas Thomas Jefferson,
Philadelphia, Pennsylvania, AS,
itu mulai tertarik untuk meneliti
tanda-tanda ilmiah yang
terdapat dalam Alquran dalam
ajang Konferensi Medis ke-7
Arab Saudi Tahun 1982. Ketika
itu, dibentuk panitia khusus
untuk menginvestigasi tanda-
tanda ilmiah dalam Alquran dan
hadis.
Setelah melakukan penelitian,
Prof Johnson pun mengakui
tanda-tanda ilmiah yang
terkandung dalam Alquran.
"Kesimpulannya, Alquran tak
hanya menggambarkan
perkembangan dalam bentuk
eksternal. Namun, menekankan
juga tahapan-tahapan proses
pembentukan secara internal,
tahapan-tahapan dalam embrio,
penciptaan dan
perkembangannya. Semuanya
diakui oleh ilmu pengetahuan
modern," papar Prof Johnson.
* Prof TVN Persaud
Guru besar Anatomi dan
Kesehatan Anak dari Univeristas
Manitoba,, Winnipeg, Manitoba,
Kanada, itu juga mengakui bukti-
bukti ilmiah yang tercantum
dalam Alquran. Dia adalah
penulis puluhan buku dan
ratusan jurnal ilmiah. Pada tahun
1991, sempat meraih JCB Grant
Award. Inilah pengakuannya
tentang kebenaran Alquran
yang disampaikannya saat
memaparkan hasil penelitiannya
di Kairo, Mesir.
"Awalnya, saat melihat
Muhammad sebagai manusia
biasa, tak bisa membaca dan tak
tahu bagaimana menulis.
Faktanya, dia adalah seorang
buta aksara. Namun, apa yang
diungkapkannya (Alquran) pada
1400 tahun lalu, secara
mengagumkan, sungguh akurat
dan sesuai dengan sains
modern," papar Prof Persaud. Ia
pun secara tegas menyatakan
bahwa ajaran yang dibawa Nabi
Muhammad SAW pastilah firman
Tuhan.
* Prof Joe Leigh Simpson
Guru besar dan Ketua
Departemen Obstetrics dan
Gynaecolog, Baylor College of
Medicine, Houston, Texas, AS, itu
juga mengakui kebenaran tanda-
tanda ilmiah yang terdapat
dalam Alquran. "Tak ada
pertentangan antara genetika
dengan agama Islam. Adalah
fakta bahwa agama Islam telah
menjadi petunjuk bagi ilmu
pengetahuan," cetusnya. Prof
Simpson pun meyakini bahwa
Alquran berasal dari Tuhan.
Sebab, Nabi Muhammad SAW tak
bisa membaca dan menulis.
* Prof Alfred Kroner
Guru besar Departemen Geosains
Universitas Mainz, Jerman, ini
dikenal sebagai salah seorang
geolog terkemuka dunia. Ia
mengaku terkagum-kagum
dengan isi Alquran yang mampu
menjelaskan asal mula
terbentuknya alam semesta.
"Memikirkan dari mana
Muhammad berasal ... saya
berpikir hampir tak mungkin dia
telah mengetahui banyak hal
tentang asal mula alam semesta,"
paparnya.
Menurut dia, para ilmuwan saja
baru mengetahui asal mula
pembentukan alam semesta
dalam beberapa tahun terakhir,
dengan menggunakan kemajuan
teknologi yang sangat rumit.
Atas dasar itu, Prof Kroner juga
meyakini bahwa Alquran yang
disampaikan Nabi Muhammad
SAW adalah firman yang berasal
dari Tuhan.
* Prof Yushidi Kusan
Direktur Observatorium Tokyo,
Jepang, ini juga menyatakan
sangat terkagum-kagum dengan
apa yang dijelaskan Alquran
tentang alam semesta. "Saya
sangat terkesan dengan fakta-
fakta astronomi dalam Alquran
yang terbukti kebenarannya.
Kami, para astronom modern,
baru mempelajari secuil saja
tentang alam semesta,"
ungkapnya. "Dengan membaca
Alquran dan menjawab
pertanyaan, saya kira, saya
dapat menemukan jalan di masa
depan untuk menginvestigasi
alam semesta."
Penulis : hri
REPUBLIKA - Rabu, 17 September
2008