pencarian

Selasa, 22 Maret 2011

Jurnal Kesehatan


Perilaku Makan Pada Siswa Obesitas SLTP

di 5 kecamatan kota Malang

Disusun Guna Memenuhi Matakuliah ASKEB V(Komunitas)

Dosen pengampu : Rury Narulitasari, SST




Disusun Oleh :

Renny Winda Rosiani 09074106034

AKADEMI KEBIDANAN MUHAMMADIYAH

MADIUN

2011

A. Abstrak :

Penelitian bertujuan untuk mengungkap perilaku makan siswa SLTP negeri yang obesitas. Populasi dalam penelitian ini Siswa SLTP Negeri di Kota Malang, sedangkan sampel adalah siswa SLTP Negeri yang obesitas. Pengambilam sampel SLTP Negeri dengan cara stratekrandom sampling, di 5 kecamatan yang ada di kota Malang.

Pemilihan sampel berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan antara lain: indek masa tubuh (IMT) > 20%, umur 13-14 th, klas II dan III. Berdasarkan krieteria yang telah ditetapkan terdapat 73 siswa dengan indek masa tubuh lebih dari 20% ( obesitas). Hasil penelitian dari 73 sampel , 63 sampel (86%) perilaku makan 3 kali per sehari, 6 sampel (6.6%) perilaku makan 2 kali perhari dan 4 sampel (5.4%) prilaku makan 4 kali perhari. Disamping itu 40 sampel (54%) memiliki kebiasaan menambah porsi makan. Sampel juga memiliki kebiasaan makanan kudapan antara lain: memiliki kebiasaan jajan 64 sampel(87%) dan ngemil 70 sampel (91.8%).

Penelitian ini menyimpulkan bahwa perilaku makan siswa obesitas adalah rata-rata tinggi kalori, tinggi lemak dan memiliki forsi makan yang tidak berimbang dengan energy yang dikeluarkan. Sehingga hal ini yang menjadi penyebab semakin meningkatnya berat badan siswa-siswi dan menambah timbunan lemak tubuh.

B. Latar Belakang

Obesitas merupakan masalah mendasar yang perlu mendapat perhatian karena merupakan ancaman bagi kesehatan (Arbai, 2000). Sedangkan obesitas tidak hanya terjadi di negara-negara maju tetapi juga epedemik di negara-negara berkembang (Thorburn, 2000). Obesitas sudah merupakan epedemik global pada anak-anak, remaja, dewasa dan lansia (Kiess, 2001). Bahkan WHO menyebutkan ada 17 Penyakit penyerta yang dapat timbul pada kasus obesitas (Tjokroprawiro, 2002).

Pola hidup pasif dan pola makanan yang tinggi lemak, rendah serat, memungkinkan sebagai pemicu peningkatan prevalensi obesitas. Walaupun faktor penyebab obesitas sangat multidemensi, namun perilaku makan kemungkinan sebagai pemicu obesitas sampai saat ini belum mendapat perhatian, khususnya dikalangan siswa SLTP (Praremaja). Obesitas merupakan salah satu penyebab yang dapat menurunkan kualitas sumberdaya manusia di masa mendatang, yang merupakan perioritas pembangunan nasional. Hal ini karena obesitas merupakan prediktor dari beberapa penyakit degeneratif diantaranya penyakit diabetes melitus tipe I, hiperlepidemia, hipertensi (Hanah, 2002). Melihat sifat praremaja suka mencoba gaya hidup baru termasuk pola makan.

Mujianto (1994) menemukan 15-20% remaja Indonesia biasa mengkonsumsi ayam goreng dan burger produkluar negeri. 87% preremaja dan remaja suka makan diluar, seperti escampur, bakso dan jajanan lainya.

Dijelaskan oleh Ba-or (2000) bahwa obesitas pada masa praremaja 50% disebabkan oleh obesitas pada masa anak-anak, dan obesitas pada masa dewasa 70% disebabkan oleh obesitas pada masa remaja, sedangkan obesitas masa tua 80% disebabkan oleh obesitas pada masa dewasa.

C. METODE

Sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin mengungkap perilaku makan praremaja obesitas, maka penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptip analitik observasional pada praremaja obesitas. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SLTP Negeri di kota Malang, sedangkan sampel sekolah diambil dengan cara stratek radom sampling SLTP Negeri sekota Malang yang tersebar di 5 kecamatan. Sedangkan sampel siswa dengan kriteria memiliki indek masa tubuh (IMT) > 20%, merupakan siswa SLTP Negeri kelas II-III, usia 13-14 tahun . Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan didapat 73 sampel yang terdiri dari 36 sampel pria dan 37 wanita. Pengumpulan data dilakukan melakukan pengisian angket (Kuisioner), wawancara dan pengukuran antropometrik. Tempat pengambilan data di lakukan di ruang UKS sekolah masing-masing.

D. Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa 63 sampel (86%) memiliki kebiasaan makan 3 kali perhari, 6 sampel (6.6%) makan 2 kali per hari, 4 sampel (5.4%) makan 4 kali per hari, dan sebanyak 40 sampel (55%) memiliki kebiasaan makan tambah porsi. Makanan kudapan berupa makanan jajanan dan kemilan juga menjadi kebiasan (perilaku) sampel. Berdasarkan hasil penelitian sebanyak 64 sampel (87%) memiliki kebiasaan jajan dan 70 sampel (91.8%) memiliki kebiasaan gemil. Berdasarkan hasil penelitian hanya 9 sampel (12.2%) yang tidak jajan dan 3 sampel (4.1%) yang tidak ngemil. Jenis jajanan yang menjadi kesenangan untuk dikonsumsi antara lain: bakso sebanyak 38 sampel (52%), Roti 10 sampel (12.4%), Gorengan 25 sampel (32.9%), sedangkan jenis kemilan kacang 32 sampel (43%), kripik 27 sampel (21.6%), coklat 11 sampel (15%). Jajan di lakukan pada waktu sekolah, jalan dengan teman dan di rumah, sedangkan waktu ngemil dilakukan bersama orang tua 10 sampel (13.6%), nonton TV 20 sampel (27.3%) dan ngemil dengan teman 40 sampel (55%).

E. PEMBAHASAN

Obesitas Merupakan masalah kesehatan masyarakat yang kronik dan dapat memicu menurunnya kualitas sumberdaya dimasa mendatang. Oleh sebab itu obesitas pada masa praremaja atau pada masa anak-anak, harus mendapat perhatian yang serius.

Berdasarkan hasil penelitian prevalensi obesitas pada siswa-siswi (praremaja) di SLTP Negeri yang berada di pusat kota lebih tinggi dibanding dengan yang di pinggiran kota. Di SLTP Negeri dipinggiran hanya di dapatkan 14 praremaja obesitas dengan rincian praremaja putra 8 orang dan 10 praremaja putri. Tingginya prevalensi obesitas pada SLTP Negeri di pusat kota disebabkan oleh pola hidup dan gaya hidup yang berbeda. Gaya hidup di kota khususnya pada masa praremaja lebih pada gaya hidup pasif dengan makan tinggi kalori. Disamping itu siswa SLTP Negeri di pusat kota, berasal dari orang tua dengan status sosial ekonomi menengah ke atas kongkrit.

Secara umum menurut Mukawi (2004) peningkatan prevalensi obesitas banyak di kota dan pada keluarga dengan sosial ekonomi yang tinggi. Kalangan ini biasanya sering mengkonsumsi makanan tinggi kalori dan banyak lemak (makanan cepat saji) dan gaya hidup moderent. Berdasarkan hasil penelitian prilaku makan antara siswa SLTP Negeri yang ada di pusat kota dan yang dipinggiran kota rata-rata pola makan pokok 3-4 kali sehari, dari prekuensi makan dalam sehari terdapat kebiasaan makan yang selalu tambah, baik lauk, maupun nasi. Disamping itu kebiasaan makan dengan tinggi kalori, lemak dan rendah serat menjadi mode pada praremaja seperti pada makanan cepat saji. Kebisaan makan di rumah terutama menu yang disediakan orang tua sudah tidak menjadi model lagi. Dari 73 sampel 70 sampel menyatakan sering makan di luar rumah, baik itu di kantin, di warung tegal, dan juga di rumah makan cepat saji (MD, KFC) baik yang praremaja ada di pinggiran kota maupun di tengah kota. Alasan mereka adalah karena dapat diterima dalam sosialisasi dengan teman, tempat yang nyaman untuk bertemu teman dan makanan sesuai dengan selera praremaja. 90% makan di luar dilakukan bersama teman, mereka beralasan sebagai bentuk sosialisai, untuk mendapat pengakuan teman sebaya. Saat ini makanan lekas saji merupakan salah satu makanan yang dianggap paling ‘gaul’ oleh kalangan praremaja. Makanan cepat saji merupakan salah satu pemicu meningkatnya obesitas di kalangan praremaja, karena makanan cepat saji mengandung energi yang sangat tinggi karena 40-50% adalah lemak . Sementara kebutuhan tubuh akan lemak hanya sekitar 15%.

Dalam hal ini distensi dari lambung juga memegang peranan penting karena walaupun makanan berlemak tinggi kalori karena volumenya kecil, lambung masih mampu menerima makanan lagi. Oksidasi asam lemak menghasilkan energi lebih besar dibanding dengan oksidasi karbohidrat. Lemak makanan sesudah makan tidak mengalami perubahan metabolisme secepat karbohidrat. Makanan sejenis karbohidrat lebih cepat menimbulkan rasa kenyang. Sehingga penumpukan lemak tubuh dapat berkurang apabila penyerapan lemak makanan dapat diturunkan. Disamping itu seseorang yang obesitas memiliki kecenderungan lebih responsif dibanding dengan orang yang memiliki berat badan normal terhadap isyarat lapar ekternal, seperti rasa dan bau makanan . orang obes cenderung makan bila ia merasa ingin makan , bukan makan pada saat lapar.

Berdasarkan hasil penelitian 75 % sampel selalu tersedia kemilan di dalam tas sekolahnya, dan ruang belajaranya, sedangkan ngemil bersama dengan orang tua sangat jarang di lakukan ( tidak lebih dari10%).

untuk mengontrol berat badan yang terpenting adalah mengatur keseimbangan jumlah kalori yang masuk dan yang keluar. Ketika seseorang hanya mengkonsumsi dengan jumlah kalori sesuai dengan kebutuhan tubuh, maka berat badan akan stabil, tetapi jika memasukan kalori lebih banyak dari kebutuhan, maka kelebihan kalori tersebut akan disimpan sebagai lemak (Hopkin,1996).

Hasil penelitian Field (1993) terhadap 431 anak prapuber dan puber, menunjukan frekuensi pengaturan makan mempunyai hubungan positif dengan pertimbangan berat badan dan bentuk fisik, tetapi ketidak sesuaian antara apa yang dimiliki dan yang diinginkan dapat menggangu kebiasaan makan.

F. KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa prilaku makan pokok berkisar anatara 3-4 kali dalam sehari, namun praremaja obesitas memiliki kebiasaan menambah porsi makan pada saat makan ,dan makanan yang menjadi kesukaan adalah tinggi kalori, tinggi lemak serta rendah serat. Praremaja obesitas juga memiliki kebiasaan jajan dan ngemil . Kebiasaan tersebut dilakukan bersama teman dan orang tua baik di rumah maupun di luar rumah (sekolah, tempat hiburan)

2. Saran

Berdasarkan hsil penelitian disarankan pada praremaja obesitas untuk mengubah dan mengendalikan prilaku makan yang disuaikan dengan kaori yang dibutuhkan . Disamping harus membudayakan pola hidup aktif, memanfaatkan waktu luangnya dengan aktifitas fisik dan melakukan latihan fisik minimal 3 kali per minggu dengan bentuk olahraga aerobik, intensitas moderat minimal 30 menit.

DAFTAR PUSTAKA

Arbai A,2000. The Role of ietary Fat in Obesity. Simposium Is Obesity A disease. Pusat diabitus dan Nutrisi RSUD dr.Sutomo – FK Unair surabay 15 April.

Bar-or, O,2000. Juvenile Obesity, Physical Activity, and Lifestyle Changes. The Physician and Sportsmedicine – Vol 28 No 11 Nov.

Khomsan Ali, 2003. Pangan dan gizi untuk kesehatan . Raja grafido persada Jakarta.

Merawati,2003.http ://docs. google.Com/viewer?a=v&q=cache:4NRiONZzUTUJ: www.iptekor.com/doc/07_3_4.pdf+jurnal+penelitian+gaya+hidup+terhadap+obesitas&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEESiZds38BKFQg0KW0mSpKOszL2J8ynHa8b72xE1rCXYZjCWjszakvGUteKWeiaPYCMbG1gvbOSR5polFSzZsSZezfJSG_t9ot_VCNDCAgPrY6iVvNZVWekDK_Az2RlffztqKnKRT&sig=AHIEtbS0RS_ohGYTisTHRZuA0eonLRf94A. 23042011